Senin, 22 Juli 2019

*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                              Selasa, 23 Juli 2019                                                                                                                              RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Kita Adalah Saudara-Saudari Yesus Kristus!*                                                                             Matius 12:46-50

Saudara-saudari... Siapakah yang sangat kita cintai dalam hidup kita? Orang tua kita? Saudara/i kita? Teman dekat kita? Tuhan kita? Masing-masing kita pasti punya jawaban atas pertanyaan ini dan jawabannya pasti didukung dengan alasanya.
Injil hari ini menceriterakan kepada kita, bahwa Ibu Yesus bersama saudaranya datang mau bertemu Yesus. Tetapi jawaban Yesus: “Siapakah ibuku? Dan siapakah saudara-saudaraku? Sambil menunjuk kepada murid-murid-Nya, Ia berkata: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku. Sebab siapa pun yang melakukan kehendak BapaKu di surga, dialah saudara-ku laki-laki, dialah saudari-ku perempuan.” 
Kalau kita merenungkan jawaban Yesus, ada kesan bahwa Yesus tidak menghiraukan ibu dan saudara-saudara-Nya. Tetapi kesan ini sama sekali tidak benar. Yesus yang adalah pencetus hukum cinta kasih; pribadi yang selalu menggerakkan hati semua orang untuk mencintai orang lain sama seperti diri sendiri pasti selalu mencintai ibuNya dan saudara-saudara-Nya. Dia yang adalah maha-cinta pasti cintanya kepada orangtua dan keluarganya tidak perlu diragukan lagi. Yesus pasti selalu menunjukkan cinta-Nya kepada ibu dan saudara-saudari-Nya tanpa syarat. 
Mungkin ada yang bertanya: kalau demikian, apa maksud pernyataan Yesus:  “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku.”   Menurut tafsiran Kitab Suci: pernyataan ini diucapkan dengan tujuan agar para murid bisa melihat makna dan pentingnya menjalankan perintah Tuhan. Semakin kita rajin dan setia menjalankan perintah Tuhan, maka relasi keakraban antara kita dan Tuhan akan semakin kuat. Relasi fungsional sebagai guru dan murid akan pelan-pelan berubah menjadi relasi kelurga.
Pengalaman manusiawi kita sudah membuktikan bahwa relasi fungsional antara sesama akan pelan-pelan berubah menjadi relasi kekeluargaan, karena pengaruh kedekatan emosional dan keterbukaan antara kita. Kepercayaan dan penghargaan antara sesama adalah faktor yang paling penting dalam berelasi. Semakin kita saling percaya dan menghargai dalam berelasi, maka rasa kedekatan antara kita semakin kuat.
Kedekatan Yesus dengan para murid-Nya pun sangat erat. Kelanjutan dari karya pewartaannya pun akan sangat bergantung pada kerja sama antara Tuhan dan kita. Tanpa para murid yang disapanya ibu dan saudara-saudara-Nya, maka kelangsungan karya pewartaan kerajaan Allah di dunia ini pun tidak mungkin diteruskan. Kedekatan emosional yang didorong oleh kasih antara para anggota dan Tuhan sungguh memperkuat relasi kita sehingga dengan demikian para anggota menyapa dirinya sebagai saudara/i Yesus Kristus.

Marilah saudara-saudari... kita berdoa, semoga Tuhan sadarkan kita agar kita selalu bertingkah-laku baik, sebagaimana layaknya tingkah-laku para murid perdana, yang sangat didorong oleh rasa kasih sebagai saudara.

Kita memohon Bunda Maria untuk selalu mendoakan kita. Amin.

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar