Jumat, 9 Agustus 2019
Pw. St. Theresia Benedikta dari Salib
Nah. 1:15; 2:2; 3:1-3,6-7; MT: Ul. 32:35cd-36ab,39abcd,41; Mat. 16:24-28.
"Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikuti Aku." (Mat 16,24)
Suatu kali santa Teresia dari Avila yang sering memperoleh pengalaman mistik mengeluh pada Yesus. ”Tuhan, mengapa saya sering mendapat tantangan dan menderita padahal saya setia mengikuti Sabda-Mu”. Yesus menjawab: ”Teresia, begitulah cara Saya memperlakukan orang-orang yang mau mengikuti Saya.” Serta-merta Teresia menimpali: ”Tuhan, pantas Engkau memiliki cuma sedikit pengikut.” Memang, mengikuti Yesus bukanlah hal yang mudah. Untuk mengawali hidup sebagai pengikut-Nya saja, butuh waktu dan kualitas tertentu. Setelah menjadi pengikut-Nya, masih diminta untuk menyangkal diri (menahan diri untuk tidak hanya menuruti keinginan pribadi yang serba enak dan menyenangkan tetapi berjuang untuk menggapi nilai-nilai hidup yang lebih luhur dan mulia) serta memikul salib (rela berkorban demi kepentingan orang lain, seperti Yesus yang mengorbankan diri-Nya demi keselamatan kita). Hanya dengan kedisiplinan hidup semacam ini kita bisa benar-benar hidup sebagai murid-murid Kristus. "Murid", bahasa latinnya "discipulus" dan bahasa inggrisnya "disciple". Amat erat berkaitan dengan kata dalam bahasa Indonesia "disiplin". Maka, seorang murid Kristus diharapkan sungguh-sungguh disiplin, terutama dalam menyangkal diri dan memikul salib.
St. Theresia Benedikta dari Salib, yang kita peringati hari ini, memberi contoh bagaimana sebagai murid Kristus ia manyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikuti Yesus dengan setia. Salah satu kesaksian tentangnya mengatakan bahwa ketika ditangkap oleh tentara Nazi dan dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi pada tahun 1942, ia tidak kehilangan ketenangan dan kegembiraannya sebagai pengikut Kristus. "Penderitaan dan ketegangan dalam kamp itu tak terlukiskan. Sr.Benedikta berkeliling di antara ibu-ibu, menghibur, menolong, menenangkan, bagai seorang malaikat. Banyak ibu-ibu yang nyaris gila, sudah berhari-hari tidak menghiraukan anak-anak mereka. Mereka bingung dan putus asa. Sr.Benedikta memperhatikan anak-anak yang malang itu, memandikan dan menyisir rambut mereka… ia memberi contoh pengabdian yang tak kenal lelah, yang begitu baik, yang mengherankan semua orang.” Pada tanggal 9 Agustus 1942, ia bersama banyak orang lainnya dibantai dengan gas beracun lalu dibakar secara massal.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar