Sabtu, 17 Agustus 2019

Minggu, 18 Agustus 2019
HR Maria Diangkat ke Surga
Why. 11:19a; 12:1,3-6a,10ab; Mzm. 45:10bc,11,12ab; 1Kor. 15:20-26; Luk. 1:39-56.

Berdasarkan Kalender Liturgi KWI, hari ini adalah Hari Raya Maria Diangkat ke Surga. Untuk merenungkan, baik misteri Maria diangkat ke surga maupun bacaan-bacaan hari ini, saya tawarkan sebuah kata kunci "gerak". Bunda Maria diangkat ke surga, berarti ia mengalami sebuah gerak: berpindah dari kehidupan di dunia ke kemuliaan surgawi. Dalam bacaan pertama, kita baca tentang seorang perempuan yang lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah. Perampuang itu adalah gambaran dari Maria. Ia berlari, berarti mengalami gerak perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Dalam bacaan kedua, kita dengarkan pengajaran Paulus tentang kebangkitan. Dalam kebangkitan terjadi pula gerak perubahan dari kehidupan duniawi ke kehidupan abadi. Kemudian bacaan Injil berkisah tentang gerak perpindahan Maria dari Nazaret ke rumah Elisabeth di Yehuda. Tampaknya, Maria berjalan sejauh kurang lebih 150 km seorang diri. Namun, sebenarnya ia membawa Yesus dalam rahimnya. Karena bersama Yesus, maka kehadirannya pun membawa sebuah gerak yang lain, yakni gerak Yohanes yang "melonjak kegirangan" di rahim Elisabeth.  Injil memang tidak menyebut untuk apa Maria pergi ke rumah Elisabeth. Namun, dari konteksnya, kita dapat menyimpulkan bahwa ia datang untuk memberikan pertolongan kepada saudarinya yang sudah tua dan sedang mengandung serta akan segeramelahirkan. Saat Maria berangkat, usia kandungan Elisabet sudah 6 bulan, dan ia tinggal di sana selama 3 bulan. Kemungkinan, ia kembali setelah Elisabeth melahirkan.
Dalam hidup ini, kita tentu telah, sedang, dan akan melakukan banyak gerak dan perpindahan. Marilah kita belajar dari Maria, agar gerak kita bukan segera gerak, dan perpindahan kita dari satu tempat ke tempat yang lain selalu bermakna.
Pertama, sebagaimana Maria, dalam gerak perjalannya, membawa Yesus dalam rahimnya, kita diharapkan juga selalu membawa Yesus dalam hati kita.
Kedua, bersama Yesus, Maria membawa sukacita baik bagi Elisabeth maupun Yohanes di rahimnya. Demikian pula kita, kehadiran kita di mana pun, semoga selalu membawa sukacita, membuat orang lain "melonjak kegirangan".
Ketiga, sebagaimana kehadiran Maria di rumah Elisabet membawa uluran tangan dan pertolongan, di mana pun kehadiran kita juga diharapkan selalu membawa uluran tangan dan pertolongan bagi orang lain.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar