Sabtu, 03 Agustus 2019

Minggu, 4 Agustus 2019
Hari Minggu Biasa XVIII
Pkh. 1:2; 2:21-23; Mzm. 90:3-4,5-6,12-13,14,17; Kol. 3:1-5.9-11; Luk. 12:13-21.

"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Luk 12,15)

Ketiga bacaan hari ini, dengan sangat jelas, mengundang kita untuk lebih mengutamakan harta surgawi daripada harta duniawi atau untuk menggunakan harta duniawi guna mendapatkan harta surgawi. Bacaan pertama menegaskan bahwa harta duniawi itu sifatnya fana, bahkan dikatakan sia-sia. Memang, selama hidup di dunia ini kita membutuhkannya, tetapi semuanya kita tinggalkan pada saat kita harus meninggalkan dunia ini. Harta duniawi juga tidak menjamin keselamatan kita.
Dalam Injil, Yesus menegaskan bahwa hidup kita tidak tergantung pada kekayaan yang kita miliki (Luk 12,15). Perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus diawali dengan kenyataan bahwa harta duniawi yang kita miliki adalah anugerah, pemberian dan kemurahan hati. "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya". Ia menjadi kaya karena tanah yang dikerjakannya memberi hasil melimpah. Meskipun ia bekerja keras, tetapi kalau tanah yang dikerjakannya tidak mau memberi kesuburan dan hasil yang melimpah, ia tidak akan mendapat apa-apa. Maka, jelas bahwa ia mengalami dan menerima kemurahan dari bumi. Namun ironisnya, ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Semua yang dibuat dan dipikirkannya hanya berpusat dan berfokus pada dirinya sendiri. Pada "aku, aku dan aku": "Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku." (Luk 12,17-18). Bahkan, pertimbangan dan diskusi pun dilakukan hanya dengan dirinya sendiri: "aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!". Semuanya berpusat pada "aku, diriku, jiwaku". Namun, apa yang terjadi? Dalam sekejap, ia kehilangan semuanya. Bahkan jiwanya pun melayang. Hidupnya diambil oleh Yang Empunya.
Bacaan kedua melengkapi pengajaran Yesus. St. Paulus menegaskan bahwa kita harus memikirkan dan mencari perkara yang di atas (Kol 3,1-2). Hal ini sama sekali tidak berarti bahwa harta duniawi itu tidak perlu dan tidak berguna. Harta duniawi tetap kita perlukan untuk mendukung kelangsungan hidup kita. Maka kita perlu bekerja, berusaha, dan menghasilkan. Namun, harta duniawi yang kita miliki - yang sebenarnya adalah anugerah dan kemurahan Tuhan - mesti menjadikan kita kaya di hadapan Tuhan, yakni dengan menjadikannya sebagai sarana untuk berbagi dan melayani orang lain. Bukan hanya "aku" yang menjadi pusat, tetapi orang lain juga mesti kita perhatikan.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar