MINGGU, 15 SEPTEMBER 2018
Pekan XXIV
Pesta Perawan Bunda Maria Berdukacita
Bacaan Liturgi
Bacaan 1: Keluaran 32:7-11.13-14
Bacaan 2: 1 Timotius 1:12-17
Injil Lukas 15:1-32 (Singkat Lukas 15:1 - 10)
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangga serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan." "Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."
Demikianlah Injil Tuhan
=======================
*SIRAMAN ROHANI* Minggu, 15 September 2019 RP Fredy Jehadin, SVD
*Tema: Tuhan Tetap Mencari Kita Di Saat Kita Hilang!* Lukas 15: 1 - 10
Saudara-saudari... Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan kebaikan dan cinta Tuhan kepada kita manusia. Perumpamaan-perumpamaan yang dikisahkan Kristus sesungguhnya mau melukiskan kisah hidup kita. Betapa sering kita menjauh dari Tuhan. Penyebabnya mungkin terkadang karena pengaruh orang lain, tetapi betapa sering karena kelemahan kita sendiri. Kita sendiri yang memutuskan untuk mengikuti kehendak kita sendiri, bukan kehendak Tuhan yang kita pilih. Betapa sering kita salah mempraktekan kebebasan kita. Kita ingat kejatuhan manusia pertama. Awalnya Hawa digoda oleh Setan. Godaan untuk memakan buah terlarang. Setan dengan segala kelicikannya meyakinkan Hawa untuk memakan buah terlarang itu. Setan menjelaskan kepada Hawa mengapa Tuhan melarang mereka memakan buah terlarang itu. Setan berkata, bahwa Tuhan melarang karena kalau mereka memakannya maka mereka bisa menyamai Allah. Hawa berpikir, bahwa penjelasan itu sangat masuk akal. Hawa tergoda untuk menyamai Allah, karena itu ia menerima tawaran Setan dan memakan buah terlarang itu. Hawa terjebak dalam dosa kesombongan. Hasil akhirnya? Mereka bukannya menyamai Allah tetap jatuh terpuruk dan mulai saat itu mereka sengsara. Bukan kehabagiaan yang diperoleh tetapi kesengsaraan.
Betapa sering manusia alami hal yang sama. Merasa tak berdaya sesudah alami konsekwensi dari keputusan bebas yang diambilnya. Keputusan bebasnya menjauhkan dia dari Tuhan; dia menghilang dari pandangan Tuhan. Tetapi Tuhan itu selalu penuh belaskasihan. Dia selalu berinisiatip mencari manusia yang hilang itu.
Mengapa Tuhan begitu mencintai manusia? Apakah karena didorong oleh kodrat Tuhan, yang adalah cinta itu sendiri? Saya yakin bukan hanya karena itu, tetapi karena pada dasarnya Dia tidak mau kehilangan manusia yang diciptaan-Nya dengan cara yang sangat istimewah. Dari kitab Kejadian kita tahu bahwa Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya sendiri dan roh kehidupan yang menghidupkan manusia sesungguhnya adalah roh dari Tuhan itu sendiri. Atas dasar itu, Tuhan selalu berinistiatip mau menyelamatkan manusia. Dia selalu dan tetap mencarinya. Sekali manusia ditemukan dan kembali kepada Tuhan, maka sukacita Tuhan sungguh luar biasa.
Marilah saudara-saudari... cintailah Tuhan kita dengan segala pikiran, hati, kekuatan dan roh kita. Jangan biarkan kebebasan pribadi kita menyesatkan kita sehingga kita akhirnya menghilang dari padaNya, sebaliknya biarkanlah kehendak Tuhan selalu menjadi prioritas hidup kita, sehingga kita selalu ada dalam genggaman Tuhan dan menyatu dengan Dia untuk selama-lamanya.
Kita memohon Bunda Maria untuk mendoakan kita. Amen!
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar