Senin, 16 September 2019

*SELASA, 17 SEPTEMBER 2019*

Bacaan Liturgi

Hari Biasa, Pekan Biasa XXIV
PF S. Robertus Bellarmino, Uskup dan Pujangga Gereja

Bacaan Injil
Luk 7:11-17

Hai Pemuda, bangkitlah!

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada suatu ketika pergilah Yesus ke sebuah kota bernama Nain.
Para murid serta banyak orang pergi bersama Dia.
Ketika Ia mendekati pintu gerbang kota,
ada orang mati diusung ke luar,
yaitu anak laki-laki tunggal seorang ibu yang sudah janda.
Banyak orang kota itu menyertai janda tersebut.

Melihat janda itu tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan.
Lalu Tuhan berkata kepadanya, "Jangan menangis!"
Dihampiri-Nya usungan jenazah itu dan disentuh-Nya,
Maka para pengusung berhenti.
Tuhan berkata, "Hai Pemuda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!"
Maka bangunlah pemuda itu, duduk, dan mulai berbicara.
Yesus lalu menyerahkannya kepada ibunya.

Semua orang itu ketakutan,
dan mereka memuliakan Allah sambil berkata,
"Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,"
dan "Allah telah mengunjungi umat-Nya."

Maka tersiarlah kabar tentang Yesus ke seluruh Yudea
dan ke seluruh daerah sekitarnya.

Demikianlah Injil Tuhan.
======================
*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                         Selasa, 17 September 2019                                                                                                                              RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Hati dan Kuasa Kristus Bisa Menghidupkan!*                                                                                    (Lukas 7:11- 17)

Saudara-saudari… Pada suatu kesempatan, sesudah mengerjakan begitu banyak kegiatan,  saya mengeluh kepada seorang Bruder tua. Dengan senyum Bruder berkomentar: “Bagus sekali, karena engkau sudah menanam banyak bibit yang menarik pada hari ini, puji Tuhan! Kita berdoa semoga bibit yang engkau taburkan hari ini bertumbuh dan menghasilkan buah. “Maju terus Fredy.” 
Komentar Bruder tua ini sungguh merubah perasaan dan pikiran saya sore itu. Bukan keletihan lagi yang ada dalam diriku saat itu, tetapi semangat baru. Saya tidak pernah berpikir bahwa apa yang saya buat hari itu sesungguhnya adalah suatu kegiatan menabur bibit, yang bisa saja betumbuh dalam diri orang lain. Bruder tua ini sudah membuka pikiran saya akan apa yang saya buat setiap hari dan mendorong saya untuk selalu berpikir positip.

Saudara-saudari… Hari ini, lewat Injil, kita mendengar kisah sedih yang kemudian berubah jadi sukacita. Seorang ibu janda kehilangan anak laki-laki tunggal. Anak laki-laki yang selalu diharapkan akan menjadi penopang hidupnya di masa depan, tetapi kini sudah tiada, sudah mati dan tidak akan hidup kembali. Kematian anak tunggal ini, bagi sang janda, merupakan akhir dari segalanya. Semangat hidup sang ibu janda sudah tiada.
Selagi sang janda dirundung duka yang sangat mendalam, tiba-tiba muncullah Yesus Kristus. Yesus Kristus, yang adalah manusia, yang punya perasaan, turut prihatin akan situasi hidup sang ibu janda. Injil katakan, bahwa ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hatiNya oleh belaskasihan. Rasa belaskasihan Yesus Kristus tidak terbatas pada belaskasihan pasif, tetapi Ia mendekati ibu janda dan berkata kepadanya: “Jangan menangis!”  Di saat Yesus melarang ibu janda, “jangan menangis” mungkin sang ibu janda terheran-heran dan tidak mengerti, mengapa Yesus melarang dia menangis? Mungkin orang yang mendengar perkataan Yesus itu ada yang bereaksi negatip akan Yesus; mungkin ada yang berkata: “Orang ini betul tidak punya perasaan, orang kehilangan anak tunggal ko, dilarang menangis?”
Yesus melarang ibu janda, “jangan menangis!” karena Dia mau mengganti dukacitanya menjadi sukacita; Ia mau membawa perubahan situasi. Dia, yang punya hati dan kuasa, kini mau menciptakan satu situasi baru, dari situasi duka-cita yang sangat mendalam menjadi situasi yang penuh suka-cita. Sesudah melarangnya, Yesus mengajak sang ibu untuk menyaksikan apa yang mau dibuatNya. Ia menghampiri usungan itu, menyentuhnya, dan berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Larangan Yesus, kini sudah bisa dipahami oleh sang ibu janda dan juga oleh mereka yang menyaksikannya.

Pertanyaan untuk kita: di saat kita mengalami dukacita, apakah kita masih punya semangat untuk mendengar bisikan Tuhan dan mengikuti perintahNya? Apakah kita punya pengalaman iman, bahwa sesudah kita mengikuti bisikan suara hati atau bisikan Tuhan, situasi duka-cita kita tiba-tiba berubah menjadi sukacita? Apakah kita selalu hadir memberi semangat hidup kepada mereka yang lagi kehilangan semangat hidup? 

Marilah saudara-saudari… Bersama Bunda Maria kita berdoa: Tuhan berilah kami semangat untuk menghibur sesama yang sedih dan memberi dorongan dan kekuatan kepada mereka yang lesuh dan tak berdaya agar mereka boleh kembali fokus menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Mu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amen!

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar