Minggu, 27 Oktober 2019
Minggu Biasa XXX
Sir 35:15b-17.20; 2Tim 4:6-8.16-18; Luk 18:9-14
"Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah" (Luk 18,14)
Bacaan Injil tiga minggu terakhir ini berbicara tentang «doa». Injil dua minggu yang lalu berbicara tentang sepuluh orang kusta yang mohon disembuhkan oleh Yesus. Setelah semua sembuh, hanya satu yang kembali kepada Yesus untuk bersyukur. Pesannya: kita berdoa tidak hanya untuk memohon tetapi juga bersyukur. Injil seminggu yang lalu berbicara tentang seorang janda yang terus-menerus meminta kepada hakim agar dimenangkan perkaranya. Pesannya: kita diajak untuk berdoa dengan tidak jemu-jemu atau tanpa henti. Injil hari ini berbicara tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai. Pemungut cukai pulang sebagai orang yang doanya dibenarkan sedangkan orang Farisi tidak. Pesannya: kita diajak untuk tidak asal berdoa tetapi berdoa dengan baik agar menjadi orang yang dibenarkan. Nah, bagaimana doa yang baik itu? Pertama, pusat dari doa bukan diri sendiri atau aku tetapi Tuhan. Doa pemungut cukai berpusat pada Allah yang penuh belas kasih sedangkan doa orang Farisi berpusat pada dirinya sendiri, berulang kali ia berkata aku, aku, dan aku. Kedua, sikap doa yang baik adalah rendah hati, bukan sombong atau pamer. Pemungut cukai dengan rendah hati menyadari kedosaannya dan mohon belas kasih Tuhan, sedangkan orang Farisi menyombongkan hal-hal yang dilakukannya. Ketiga, doa yang baik adalah doa yang dilakukan tanpa henti: «la tidak berhenti hingga Yang Mahatinggi memandangnya» (Sir 35,18).
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar