Sabtu, 05 Oktober 2019

Minggu, 6 Oktober 2019
Minggu Biasa XXVII
Hab. 1:2-3; 2:2-4; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; 2Tim. 1:6-8,13-14; Luk. 17:5-10.

“Sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja” (Luk 17,6).

Iman. Inilah benang merah dari bacaan-bacaan hari ini. Orang benar akan hidup berkat imannya (bac I) dan berani bersaksi tentang Tuhan yang diimani. Oleh karena itu, para rasul merasa perlu agar iman mereka ditambah. Konteks permohonan ini sebenarnya berkaitan erat dengan Luk 17,1-4, yakni agar para rasul dapat hidup secara benar sehingga tidak menjadi batu sandungan. Dengan demikian, nyambung dengan bacaan I. Yang menarik, jawaban Yesus justru mengatakan bahwa seolah-olah, iman itu tidak perlu ditambahkan. Iman sebesar biji sesawi saja sudah cukup. Apa maksudnya? Biji sesawi adalah biji yang sangat kecil, bahkan paling kecil di antara segala jenis biji di bumi (Mrk 4,31). Namun, biji yang sangat kecil itu mampu bertumbuh dan berkembang serta memberi manfaat, yakni sebagai sayuran dan tempat berteduh bagi burung-burung (Mrk 4,32). Kiranya, ini yang pokok. Iman itu tidak bisa ditambahkan begitu saja oleh orang lain, namun bertumbuh dari dalam secara perlahan-lahan. Bagaimana cara untuk membuat iman kita itu tumbu, berkembang dan berbuah? Pertama-tama, tentu harus dipupuk dan disirami dengan doa, membaca Kitab Suci, dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Yang kedua, perlu disiangi dan dibebaskan dari "ilalang-ilalang" yang mengganggunya. Caranya dengan pengakuan dosa, instrospeksi diri,  correptio fraterna, dll. Yang ketiga, iman tidak hanya diakui dan dikatakan tetapi diwujudnyatakan dalam tindakan nyata, yakni dengan menghayati aneka peran kita masing-masing sebagai hamba yang tekun dan setia melayani dengan sukacita.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar