Jumat, 18 Oktober 2019

*Pernik-Pernik Iman dan Devosi Kepada Santa Perawan Maria (18)*

*Pengantar*

Satu kebenaran hakiki yang harus diakui oleh semua orang Kristen adalah " *MARIA MEMANG BUKAN TUHAN TAPI DIA ADALAH BUNDA TUHAN.* "Alasanya, kita semua percaya bahwa " *YESUS ADALAH TUHAN DAN MARIA ADALAH BUNDA YESUS* ."

*Pertanyaan* :

*Mengapa Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang baru?*

 _Jawaban_ :

Bunda Maria disebut sebagai Hawa yang baru, sebab seperti halnya Hawa, Bunda Maria memainkan peran yang penting dalam sejarah keselamatan manusia. Hawa, adalah manusia perempuan pertama yang oleh ketidaktaatannya membawa maut ke dunia, sedangkan Bunda Maria, oleh ketaatannya melahirkan Sang Hidup ke dunia.

Perbandingan antara Hawa dengan Bunda Maria sebagai ‘Hawa yang Baru’- tidak berdiri sendiri, melainkan sebagai kesatuan dengan perbandingan antara Adam dengan Kristus yang disebut sebagai ‘Adam yang baru’ (lih. Rom 5:12-21, 1 Kor 15:21). Jadi sama seperti bahwa ada keterlibatan Hawa, sehingga Adam jatuh ke dalam dosa, dan menurunkan dosa asal tersebut kepada semua umat manusia, maka demikian pula, ada keterlibatan Hawa yang baru yaitu Bunda Maria, sehingga Adam yang baru (Kristus) dapat lahir ke dunia untuk menghapus dosa manusia.

Maka tepat jika dikatakan bahwa oleh Hawa, umat manusia jatuh dalam dosa, dan karena itu dalam kuasa maut; sedangkan oleh Maria, umat manusia menerima penghapusan dosa, dan karena itu menerima kehidupan kekal.
Hawa, terpedaya oleh bujukan Iblis, sehingga ia tidak taat kepada kehendak Tuhan, sedangkan Bunda Maria percaya oleh pemberitaan Malaikat, sehingga ia taat akan kehendak Tuhan. Maka St. Irenaeus mengatakan bahwa ikatan ketidaktaatan Hawa, yaitu belenggu dosa yang mengikat manusia karena ketidaktaatannya kepada Allah, diuraikan oleh ketaatan Bunda Maria.

Harus diakui, bahwa pada awal mula, meskipun Adam juga berdosa, namun dosanya dilakukan setelah Hawa terlebih dahulu jatuh dalam dosa ketidaktaatan kepada kehendak Allah. Oleh karena itu, pada saat penebusan dosa, “obat penawar”nya adalah kondisi lawannya, yaitu diawali dengan ketaatan Maria, sang Hawa yang baru, kepada kehendak Allah (lih. Luk 1: 38) maka Kristus sebagai Adam yang baru dapat datang ke dunia oleh ketaatan-Nya kepada kehendak Allah Bapa (lih. Ibr 10:5-7).

Cara menginterpretasikan Kitab Suci dengan cara tipologis seperti ini, yaitu membandingkan penggambaran Perjanjian Lama dengan penggenapannya di dalam Perjanjian Baru, diajarkan oleh Kristus sendiri. Contohnya adalah Kristus mengatakan bahwa Ia merupakan penggenapan dari tanda Yunus (lih. Luk 11:30); pengorbananNya di kayu salib merupakan penggenapan akan gambaran ular tembaga yang ditinggikan di tiang oleh Musa (Yoh 3:14; Bil 21:8-9); dan penjelasan-Nya kepada kedua murid-Nya di perjalanan ke Emaus tentang penggenapan Kitab Suci Perjanjian Lama di dalam diri-Nya (lih. Luk 24:13-35). Penggenapan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru ini juga diajarkan oleh para murid, seperti Rasul Petrus menghubungkan bahtera Nuh dengan Baptisan (lih. 1 Pet 3:18-22); Rasul Paulus menghubungkan perjamuan Paskah dengan kurban Kristus (lih. 1 Kor 5:7), dan Adam (manusia pertama) dengan Kristus sebagai Adam yang baru (lih. Rom 5:12-21).  Maka tak mengherankan bahwa Tradisi Suci para Rasul dan para Bapa Gereja juga mengajarkan bahwa Bunda Maria adalah Hawa yang baru.

Dengan demikian, penggambaran rencana keselamatan Allah yang samar-samar dinyatakan di dalam Perjanjian Lama, kemudian digenapi di dalam Perjanjian Baru.

*Dasar Kitab Suci*

Rom 5:12-21, 1 Kor 15:21: Kristus sebagai Adam yang baru:

Luk 1:38: Ketaatan Maria membuka jalan bagi ketaatan Yesus. Oleh perkataan Maria, “Jadilah padaku menurut perkataanmu.”  Kristus masuk ke dunia melakukan kehendak Bapa (lih. Ibr 10:5-7)


 _Di-copy-paste_ dari Katolisitas.org dan diposting kembali oleh : *Rinnong - Duc in Altum*

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar