Senin, 07 Oktober 2019

Selasa, 8 Oktober 2019
Hari Biasa XXVII
Yun. 3:1-10; Mzm. 130:1-2,3-4ab,7-8; Luk. 10:38-42.

Mungkin kita bertanya-tanya: "Di mana salahnya Marta? Bukannya sangat wajar dan baik, ketika ada tamu, mesti dijamu?" Apalagi, pada waktu itu, Yesus dan para murid sedang dalam perjalanan (ay.38). Mereka tentunya lelah, lapar, dan harus. Bisa jadi, waktu itu Marta begitu sibuk melayani karena para murid begitu lahap menikmati hidangan yang disuguhkan. Untuk memahami teguran dan wejangan Yesus kepada Marta, kiranya baik kalau kita kembali ke Injil beberapa waktu lalu, yakni ketika Yesus menyampaikan perumpamaan tentang penabur. Sebagian benih yang ditabur jatuh di semak duri. Benih-benih tersebut tumbuh tetapi pelan-pelan mati karena terhimpit oleh semak duri yang tumbuh bersama-sama (Luk 8,7). Ini adalah gambaran orang yang mendengarkan dan menerima sabda Tuhan, namun sabda itu tidak tumbuh dengan baik, bahkan akhirnya mati tanpa menghasilkan buah, karena terhimpit oleh *kekuatiran*, kekayaan, dan kenikmatan dunia (Luk 8,14). Jelas di sini bahwa salah satu yang menghambat bertumbuh dan berbuahnya sabda Tuhan adalah kekuatiran. Kata yang sama dipakai oleh Yesus ketika mengingatkan Marta, "Marta, Marta, engkau *kuatir* dan menyusahkan diri dengan banyak perkara" (ay 41). Inilah yang sebenarnya kurang pas dalam diri Marta. Hatinya bagaikan semak duri: ia memiliki banyak kekuatiran sehingga tidak bisa fokus mendengarkan Sabda Tuhan. Aktif melayani tentu merupakan hal yang sangat baik. Namun itu tidak cukup. Ketika Tuhan sudah mulai bersabda, kita mesti menghentikan kesibukan kita untuk mendengarkan-Nya. Meski pekerjaan kita belum selesai. Dengan kata lain, di tengah kesibukan kita, entah dalam bekerja atau dalam melayani, kita mesti menciptakan waktu untuk "berhenti", untuk secara khusus mendengarkan Tuhan yang bersabda.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar