Sabtu, 02 November 2019

Minggu, 3 November 2019
Minggu Biasa XXXI
Keb. 11:22-12:2; Mzm. 145:1-2,8-9,10-11,13cd-14; 2Tes. 1:11-2:2; Luk. 19:1-10.

"Berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ" (Luk 19,4).

Semula, Zakheus hanya ingin melihat "orang apakah Yesus itu". Namun, karena badannya yang pendek, ia mengalami kesulitan untuk melihat Yesus dan berjumpa dengan-Nya. Syukur, ia menemukan sebatang pohon ara yang bisa dipanjat sehingga keinginannya untuk melihat "orang apakah Yesus itu" dapat kesampaian. Lebih beruntung lagi, pada saat yang sama Yesus juga melihatnya. Bahkan, Yesus justru memberikan lebih. Ketika Zakheus melihat Yesus dan Yesus melihatnya, Yesus mengatakan, "Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu". Ia mengatakan harus, bukan akan. Ia juga tidak sekedar mampir, tetapi menumpang. Zakheus pun dengan senang hati menerima Yesus di rumahnya. Selanjutnya, perjumpaan Yesus dan Zakheus di rumahnya membawa perubahan luar biasa. Zakheus yang selama ini menerima banyak keuntungan dari pekerjaannya sebagai tukang pajak, berubah menjadi seorang penderma yang rela memberikan 1/2 dari miliknya. Lebih dari itu, Zakheus berubah dari seorang yang dicap sebagai pendosa menjadi seorang yang diselamatkan. Kita semua pun dipanggil untuk mengalami perubahan hidup seperti Zakheus. Kuncinya, pertama-tama adalah kita membuka diri untuk menerima Yesus yang harus menumpang dalam rumah kita. Namun, untuk membuka hati ini, seringkali tidak mudah. Seringkali ada banyak hambatan: seperti Zakheus yang terhambat oleh kondisi badan pendek dan banyaknya orang yang mengerumuni Yesus. Maka, untuk berjumoa dengan Yesus dan membuka hati bagi-Nya, dibutuhkan tekat yang besar dan kuat: seperti Zakheus yang berlari dan memanjat pohon ara.
Dua hal bisa kita tarik sebagai simpul permenungan. Pertama, maukah kita berlari dan memanjat "pohon ara", yakni sarana apa pun yang membuat kita dapat melihat dan berjumpa dengan Yesus. "Pohon ara" itu bisa berupa doa, Kitab Suci, bacaan rohani, pelayanan, dsb. Kedua, apakah kita juga mau menjadi "pohon ara", yakni menjadi sarana bagi orang lain untuk melihat dan berjumpa dengan Tuhan?

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar