Sabtu, 16 November 2019
Pekan Biasa XXXII
Keb. 18:14-16,19:6-9; Mzm. 105:2-3,36-37,42-43; Luk. 18:1-8.
Harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.
Hari Jumat kemarin (Jumat Pekan Biasa XXXII), dalam Ibadat Bacaan disajikan sebagai Bacaan Kedua, sebuah Homili abad II (tidak disebutkan siapa). Saya terkesan dengan ungkapan ini: «Marilah kita berdoa dengan penuh iman kepada Tuhan. Kepada kita Ia telah berkata: "Sementara kamu masih berbicara (=berdoa), Aku menjawabmu: 'Ini Aku!', (Yes 58,9). Ungkapan ini merangkum sebuah janji yang besar dan membuat kita mengerti bahwa Tuhan lebih siap untuk memberi kepada kita, daripada kita untuk memohon kepada-Nya». Oleh karena itu, berdoa bukanlah sekedar memohon ini dan itu karena Tuhan sudah mengerti semua yang kita butuhkan. Doa merupakan ungkapan iman, yakni tanggapan kita atas kasih Tuhan. Kalau Tuhan mengharapkan agar kita berdoa dengan tidak jemu-jemu, kita sebenarnya diajak untuk menjadikan doa sebagai nafas kehidupan kita. Sebagaimana Tuhan selalu menyediakan udara secara berlimpah bagi kita, demikian pula Tuhan juga selalu menyediakan rahmat dan berkat-Nya secara berlimpah. Dan, supaya kita tetap hidup, kita harus mau bernafas terus secara teratur; demikian juga dengan berdoa secara teratur dan terus-menerus, kita menghirup rahmat Tuhan dan dengan demikian hita pun hidup dalam Dia dan oleh Dia.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar