Senin, 18 November 2019
Pekan Biasa XXXIII
1Mak. 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mzm. 119: 53, 61, 134, 150, 155, 158; Luk. 18:35-43.
"Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
Si pengemis yang duduk di pinggir jalan kota Yerikho itu memang buta. Namun yang buta hanya mata indrawinya. Sebaliknya, mata hati dan mata imannya justru bisa melihat dengan jelas. Buktinya, ketika ada banyak orang lewat, dan ia bertanya "Apa itu?" lalu orang memberi tahu "Yesus orang Nazaret lewat," dia segera berseru dengan penuh iman "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Dia buta, berarti kemungkinan besar tidak bisa membaca. Namun ia tahu dan mengenal Yesus Anak Daud dari antara banyak orang yang bernama Yesus. Juga ketika orang (hanya) mengatakan "Yesus dari Nazaret", ia justru tahu lebih mendalam. Ia tidak hanya sekedar tahu "Yesus dari Nazaret" tetapi "Yesus Anak Daud". Beda! Tahu "Yesus orang Nazaret" hanya sebatas pengetahuan intelektual saja, sedangkan tahu "Yesus Anak Daud" merupakan pengetahuan iman. Sebab, dibalik pengetahuannya akan "Yesus Anak Daud" itu ada kepercayaan dan harapan akan keselamatan seperti yang disampaikan Gabriel kepada Maria (Luk 1,30-33). Oleh karena itu, dengan penuh iman pula, ia berseru "Yesus Anak Daud, kasihanilah aku ... supaya aku dapat melihat!" Marilah, dengan penuh iman, kita juga mengajukan permohonan yang sama agar kata pun mampu melihat tidak hanya dengan mata indrawi kita, tetapi lebih-lebih dengan mata iman, setiap peristiwa hidup yang kita alami.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar