Kamis, 30 Jan 2020
Hari Biasa III
2Sam. 7:18-19,24-29; Mzm. 132:1-2,3-5,11,12,13-14; Mrk. 4:21-25.
Zaman sekarang, mungkin banyak orang sudah tidak lagi menggunakan pelita sebab semua penerang sudah menggunakan lampu yang sumber energinya berasal dari listrik. Namun, ketika listrik mati, kita biasanya juga menyalakan pelita atau lilin sebagai penerang. Di mana kita meletakkan lilin atau pelita tersebut? Tentu bukan di bawah tempat tidur, melainkan di atas meja atau tempat lain yang cukup tinggi sehingga dapat menerangi sekitarnya. Atau bolehlah kita tetap menggunakan lampu listrik untuk memahami kata-kata Yesus ini. Saya yakin, tidak seorang pun dari kita yang memasang lampu penerang di kolong tempat tidur. Sebagian besar lampu-lampu di rumah kita, kita pasang di plafon atau langit-langit rumah. Ada juga yang di dinding atas paling tidak di atas meja. Singkatnya, di tempat yang tinggi.
Minggu kemarin (26 Jan), kita barusaja merayakan Minggu Sabda Allah. Dalam renungan, saya mengajak untuk mengaitkan antara Sabda tuhan dengan Terang. Pengaitnya adalah Mzm 119,105: "Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku, cahaya untuk menerangi jalanku". Ya, Sabda Tuhan adalah pelita atau lampu yang diberikan Tuhan untuk menerangi hidup kita. Pertanyaannya, di manakah kita menempatkan Sabda Tuhan itu? Di tempat yang tinggi atau di bawah tempat tidur? Di mana kita meletakkan Kitab Suci kita? Di tempat tersembunyi atau bahkan entah di mana, ataukah di atas meja yang setiap saat kita lihat, kita baca, dan kita renungkan sehingga hidup kita pun diterangi olehnya?
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar