Jumat, 14 Febuari 2020
Pw. S. Sirilus, Ptp dan S. Metodius, Usk.
1Raj 11:29-32; 12:19; Mzm 81:10-11ab. 12-13. 14-15; Mrk 7:31-37
Hari ini, kita memperingati St. Sirilus dan St. Metodius. Keduanya berasal dari Tesalonika, Yunani. Pada tahun 863, mereka memulai karya sebagai misionaris untuk bangsa-bangsa Slavia di Eropa Timur. Di daerah misi itulah, mereka menerjemahkan Kitab Suci dan teks-teks Liturgi ke dalam Bahasa Slavia. Apa yang dibuat oleh St. Sirilus dan St. Metodius ini merupakan suatu langkah yang sangat berani dan visioner, mengingat pada waktu itu penerjemahan teks Kitab Suci dan Liturgi belumlah lazim. Semua kegiatan liturgi dilakukan dalam Bahasa Latin. Kendati tidak sedikit yang menentang mereka, namun keduanya mendapat dukungan sepenuhnya Paus Adrianus II (867-872).
Apa yang dilakukan oleh St. Sirilus dan St. Metodius dengan menerjemahkan Kitab Suci dan teks-teks Liturgi ke dalam bahasa setempat ini, dapat kita maknai sebagai suatu usaha untuk meneladan dan mengikuti jejak Yesus. “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:37). Dengan diterjemahkannya teks Kitab Suci ke dalam bahasa setempat, Bangsa-bangsa Slavia dapat mendegar dan mengerti dengan lebih baik warta gembira keselamatan yang terkandung di dalamnya. Demikian pula, dengan diterjemahkannya teks-teks Liturgi ke dalam bahasa mereka, mereka dapat berkata-kata dengan lebih baik untuk berdoa, memuji, dan memuliakan Tuhan melalui kegaitan-kegiatan liturgi yang mereka rayakan.
Saat ini, kita sudah memiliki Kitab Suci dan teks-teks Liturgi dalam bahasa kita, baik Bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi “tuli” karena tidak mau mendengarkan sabda Tuhan. Juga tidak ada alasan untuk menjadi “bisu” karena diam saja pada saat merayakan liturgi. Setiap perayaan liturgi menuntut dari kita kehadiran dan keterlibatan yang sepenuhnya, sadar dan juga aktif (SC 14; 48). Lebih dari itu, karena perayaan liturgi, terutama Ekaristi, adalah sumber dan puncak seluruh hidup kristiani (LG 11; SC 10), maka tindakan “mendengarkan dan berkata-kata” dengan baik dalam perayaan liturgi juga mesti berbuah dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan agar Ia juga menjadikan segala-galanya baik dalam diri kita, lebih-lebih agar kita semakin mampu mendengarkan dan berkata-kata dengan baik.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. (Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar