Rabu, 05 Februari 2020

Kamis, 6 Februari 2020
Pw. St. Paulus Miki
1Raj. 2:1-4,10-12; MT. 1Taw. 29:10,11ab,11d-12a,12bcd; Mrk. 6:7-13

Ada beberapa hal yang menarik dan inspiratif berkaitan dengan perutusan para murid yang dikisahkan dalam Injil hari ini.
Pertama, para murid dilarang membawa apa-apa. Artinya, mereka mesti percaya dan mengandalkan jaminan yang akan diberikan baik oleh Tuhan sendiri maupun orang-orang yang mereka datangi. Mereka diminta untuk berpikiran positif bahwa kehadiran mereka akan diterima dengan baik dan ramah, serta dicukupi kebutuhannya dasarnya.
Kedua, karena dilarang membawa makanan, berarti para murid mesti menerima dan makan apa yang diberikan. Mereka mesti makan makanan yang sama dengan orang-orang yang menerimanya. Makan bersama dan menerima makanan yang disuguhkan tidak hanya berarti mengenyangkan perut, tetapi menunjukkan kesediaan untuk hidup dalam kebersamaan dan kesatuan. Selain itu, hal ini juga berarti bahwa para murid tidak perlu takut untuk makan makanan yang menurut tradisi Yahudi pada waktu itu najis. Bagi Yesus dan para murid, tidak ada makanan yang najis. Kesucian tidak ditentukan oleh makanan tetapi oleh relasi yang mendalam dengan Tuhan sendiri.
Ketiga, para murid diminta untuk tinggal menetap di rumah yang telah menerimanya. Itu berarti, mereka mesti tinggal bersama mereka dan melibatkan diri baik dalam kehidupan maupun pekerjaan mereka. Dengan cara ini, terjadilah saling berbagi. Para murid pun mengajar mereka tidak hanya melalui kata-kata tetapi juga melalui kesaksian hidup, melalui sikap dan perilaku sehari-hari .
Kempat, para murid mesti memberi perhatian lebih pada mereka yang lemah, sakit, dan kerasukan roh jahat. Mereka mesti menjadi pembela dan pembebas orang-orang yang terpinggirkan agar mereka dapat mengambil bagian penuh dalam kehidupan bersama. Sebagaimana kita renungkan beberapa hari yang lalu, orang yang sakit dan kerasukan setan, oleh masyarakat justru disingkirkan dan dikucilkan karena mereka dianggap kena kutuk dan najis. Kalau para murid menyembuhkan mereka, itu berarti mereka tidak hanya dibebaskan dari penderitaan fisik tetapi juga dipulihkan martabatnya sehingga bisa masuk dan menjadi bagian secara penuh dalam hidup bersama.
Keempat hal ini, yakni: sikap saling percaya, hidup dalam kebersamaan, saling berbagi, dan saling mendukung satu sama lain terutama memberi perhatian lebih pada mereka lemah dan tersingkir, kiranya baik untuk selalu kita usahakan dalam hidup kita, di mana pun kita diutus: dalam keluarga entah sebagai suami/ayah, istri/ibu, anak; di tempat kerja; di komunitas, dll.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar