Sabtu, 15 Februari 2020

Minggu, 16 Februari 2020
Minggu Biasa VI
Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2,4-5,17-18,33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37.

"Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga" (Mat 5,20).

Menjadi pengikut Kristus, di satu sisi memang harus rendah hati. Namun, di sisi lain, kita juga tidak boleh hanya biasa-biasa saja. Mesti ada "kelebihan" yang kita miliki sebagai orang katolik. Kelebihan itu bukan untuk pamer atau sombong tetapi untuk memberi kesaksian. Kalau orang melihat, bekerja sama dan hidup bersama kita, mereka bangga dan bersyukur: Inilah orang katolik yang baik. Secara konkret, apa "kelebihan" yang seharusnya kita persaksikan? Dalam Injil hari ini, Yesus membandingkan para pengikut-Nya dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ahli-ahli Taurat itu sangat mengerti dan paham soal Kitab Suci tetapi mereka cenderung tidak melaksanakannya. Maka Yesus menegaskan: Ikuti ajaran mereka tetapi jangan tindakan mereka (bdk. Mat 23,3). Sementara itu, orang-orang Farisi memang megerti dan melaksanakan Taurat secara ketat tetapi munafik, cari pujian dan merasa diri paling baik serta selalu menilai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Mereka juga memusuhi orang lain yang melaksanakan ritual tidak sesuai dengan mereka. Yesus mengingatkan bahwa kita mesti lebih dari mereka ini. Sebagai pengikut Kristus kita harus tetap rendah hati, sebagaimana Yesus mengajak: "belajarlah padaku sebab Aku lemah lembut dan rendah hati" (Mat 11,29). Dengan didasari oleh kerendahan hati itu, kita akan sanggup menghayati keutamaan-keutamaan lain, misalnya: tidak mudah marah dan mengkafir-kafirkan orang lain (Mat 5,22), cinta damai dan pengampun serta mau minta maaf ( Mat 5,23-26), menggunakan mata, tangan, kaki, mulut dan semua bagian tubuh yang lain dengan baik dan untuk kebaikan ( Mat 5,28-30), dll. Semuanya itu tentu tidak mudah. Namun, Tuhan mengatakan: "Asal sungguh mau, engkau dapat!" (bac I). Mengapa? Karena asal kita sungguh mau berusaha, Tuhan melimpahkan rahmat dan berkat-Nya.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)Minggu, 16 Februari 2020
Minggu Biasa VI
Sir. 15:15-20; Mzm. 119:1-2,4-5,17-18,33-34; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37.

"Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga" (Mat 5,20).

Menjadi pengikut Kristus, di satu sisi memang harus rendah hati. Namun, di sisi lain, kita juga tidak boleh hanya biasa-biasa saja. Mesti ada "kelebihan" yang kita miliki sebagai orang katolik. Kelebihan itu bukan untuk pamer atau sombong tetapi untuk memberi kesaksian. Kalau orang melihat, bekerja sama dan hidup bersama kita, mereka bangga dan bersyukur: Inilah orang katolik yang baik. Secara konkret, apa "kelebihan" yang seharusnya kita persaksikan? Dalam Injil hari ini, Yesus membandingkan para pengikut-Nya dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ahli-ahli Taurat itu sangat mengerti dan paham soal Kitab Suci tetapi mereka cenderung tidak melaksanakannya. Maka Yesus menegaskan: Ikuti ajaran mereka tetapi jangan tindakan mereka (bdk. Mat 23,3). Sementara itu, orang-orang Farisi memang megerti dan melaksanakan Taurat secara ketat tetapi munafik, cari pujian dan merasa diri paling baik serta selalu menilai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Mereka juga memusuhi orang lain yang melaksanakan ritual tidak sesuai dengan mereka. Yesus mengingatkan bahwa kita mesti lebih dari mereka ini. Sebagai pengikut Kristus kita harus tetap rendah hati, sebagaimana Yesus mengajak: "belajarlah padaku sebab Aku lemah lembut dan rendah hati" (Mat 11,29). Dengan didasari oleh kerendahan hati itu, kita akan sanggup menghayati keutamaan-keutamaan lain, misalnya: tidak mudah marah dan mengkafir-kafirkan orang lain (Mat 5,22), cinta damai dan pengampun serta mau minta maaf ( Mat 5,23-26), menggunakan mata, tangan, kaki, mulut dan semua bagian tubuh yang lain dengan baik dan untuk kebaikan ( Mat 5,28-30), dll. Semuanya itu tentu tidak mudah. Namun, Tuhan mengatakan: "Asal sungguh mau, engkau dapat!" (bac I). Mengapa? Karena asal kita sungguh mau berusaha, Tuhan melimpahkan rahmat dan berkat-Nya.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar