Rabu, 19 Feb 2020
Pekan Biasa VI
Yak. 1:19-27; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Mrk. 8:22-26.
Tanpa menyangkal bahwa mukjizat Yesus menyembuhkan seorang buta sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari ini sebagai peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi, namun kisah ini tentu dapat dimaknai dan diambil maknanya secara simbolis. Dalam kisah ini, Markus tidak menyebut nama: siapa sebenarnya orang buta yang disembuhkan Yesus ini. Lain dengan kisah penyembuhan orang buta yang kedua: namanya jelas disebut, yaitu Bartimeus (Mrk 10,46-52). Secara simbolis, orang buta tersebut adalah orang-orang Farisi yang tidak mampu melihat tanda-tanda yang dibuat Yesus sehingga mereka masih meminta tanda (Mrk 8,11-13 = Injil Senin kemarin). Orang buta tersebut adalah juga para murid Yesus sendiri. Sejak mukjizat penggandaan roti yang pertama dan Yesus berjalan di atas air serta meredakan angin ribut, mereka tidak mengerti apa-apa dan hatinya tetap degil (Mrk 6,52). Dalam Injil kemarin, dikisahkan juga bahwa mereka tidak mengerti sama sekali kata-kata Yesus, sampai Yesus bertanya heran: "Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar" (Mrk 8,17-18). Kalau masih perlu menyebut satu orang, orang buta tersebut adalah Petrus, yang sebernarnya tidak mengerti tetapi sok tahu dan ketika diberitahu malah ganti memberi tahu, sampai Yesus marah dan menegor dengan keras: "Enyahlah iblis!" (Mrk 8,27-33 = Injil besuk). Tampaknya Injil hari ini memang mempersiapkan Injil besuk. Dalam Injil hari ini, seorang buta yang dibawa kepada Yesus tidak mudah disembuhkan: harus dibawa ke tempat khusus, yakni keluar kampung (Mrk 8,23) dan tidak cukup sekali jamahan langsung sembuh. Perlu 2x jamahan, baru ia sunguh-sungguh sembuh: yang pertama, ia dapat melihat tapi masih samar-sama, melihat orang seperti pohon; baru yang kedua, ia benar-benar dapat melihat dengan jelas. Dalam bacaan Injil besuk, kita juga akan berjumpa dengan Petrus, yang di satu sisi sudah mengenal bahwa Yesus adalah Mesias, namun pengenalannya masih samar-samar. Ia masih buta karena belum mengerti bahwa Yesus adalah Mesias yang harus menderita sengsara. Dan bukan hanya Petrus yang buta: para murid yang lain pun tidak mengerti. Itulah mengapa Yesus sampai memberitahukan penderitaan yang akan dialami-Nya sampai 3x (Mrk 8,31-33; 9,30-32; 10,32-34).
Kalau para murid yang dipanggil secara khusus oleh Yesus saja masih buta, apalagi kita ya? Maka, marilah dengan rendah hati kita mohon kepada Tuhan, agar kita pun disembuhkan dari kebutaan agar kita semakin mengenal Dia, semakin mengetahui kehendak-Nya, semakin mengenal sesama dan kebutuhan mereka, dll.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar