Jumat, 27 Maret 2020
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah
Keb. 2:1a,12-22; Mzm. 34:17-18,19-20,21,23; Yoh. 7:1-2,10,25-30.
Salah satu sumbangan khas Injil Yohanes adalah refleksinya tentang waktu. Sebagaimana tampak dalam Injil hari ini, Yesus memang harus menderita sengsara dan wafat di salib, tapi yang menentukan waktunya bukan mereka yang akan menyalibkan-Nya. Yang menentukan kapan waktunya adalah Yesus sendiri. Hal ini kita lihat juga dalam kisah-kisah lain: dalam perjamuan nikah di Kana (Yoh 2,4), dalam percakapan-Nya dengan perempuan Samaria (Yoh 4,23), ketika Yesus mengajarkan bahwa Dia adalah terang dunia (Yoh 8,20), pada saat Yesus memberitakan kematian-Nya (Yoh 12,23.27), pada saat Yesus membasuh kaki para murid (Yoh 13,1), pada saat Yesus berdoa untuk para murid-Nya (Yoh 17,1), dan terakhir pada saat Ia wafat di salib (Yoh 19,29-30).
Demikian pulalah yang terjadi dalam kehidupan kita. Memang, ada hal-hal tertentu yang bisa kita rencanakan dan kita buat dengan kita sendiri yang menetukan waktunya. Namun, banyak hal yang harus terjadi dan kita alami, bukan kita yang menentukan dan mengatur waktunya, tetapi Tuhan sendiri. Termasuk banyak yang sudah kita rencanakan tetapi tidak bisa terjadi dan sebaliknya banyak hal yang tidak kita rencanakan, bahkan tidak kita inginkan, tetapi harus terjadi. Inilah yang hari-hari ini kita alami terkait dengan mewabahnya corona-virus. Kita tidak tahu kapan akan berakhir. Saya sendiri, setiap hari selalu berdoa dan berharap agar wabah ini segera berakhir: yang tertular semakin sedikit, demikian pula yang meninggal. Namun, setiap kali melihat data belum tampak ada tanda-tanda akan berakhir. Di Itali, sekitar seminggu ini, sampai hari ini, setiap hari jumlah orang yang tertular masih di atas 6.000, yang meninggal masih di atas 600 setiap hari. Di Indonesia, jumlah yang tertular juga semakin banyak, apalagi disertai dengan sikap sikap "semau gue" dari banyak orang: tidak mau tinggal di rumah, tidak mau menjaga jarak aman, tetap kumpul-kumpul, tidak mau karantina, dll. Namun, ini semua tidak menyurutkan pengharapan untuk terus menerus berdoa agar Tuhan segera menentukan waktu untuk mengakhiri wabah ini. Banyak orang, termasuk PM Italia pun mengatakan: "Kita telah melakukan semua upaya, all out. Tapi hasilnya belum maksimal. Bahkan nyaris tidak ada. Sekarang kita mengharapkan satu-satunya pertolongan dari atas". Semoga, waktunya segera tiba. Atau setidaknya, terjadi seperti dalam perjamuan nikah di Kana: kendati Yesus mengatakan "waktu-Ku belum tiba" tetapi karena yang meminta adalah Bunda Maria, maka Ia pun tidak tinggal diam dan masalah selesai. Oleh karena itu, ada baiknya kita mohon segera dibebaskan dari wabah corona-virus ini bersama dan dengan pengantaraan Bunda Maria. Saya sendiri telah membuat doa rosario khusus, dengan beberapa tambahan intensi, yang saya doakan setiap hari untuk secara khusus mohon rahmat agar dunia kita ini segera dibebaskan dari wabah ini. Yang ingin ikut mendoakan, bisa WA, nanti saya share teks doanya.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar