Sabtu, 14 Maret 2020

Minggu, 15 Maret 2020
HARI MINGGU PRAPASKAH III
Kel. 17:3-7; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42

Dalam pembicaraan Yesus dengan wanita Samaria ini terdapat 2 topik yang amat penting , yaitu air dan suami.
Berkaitan dengan air, pertama-tama, Yesus berbicara tentang air sumur, yakni ait biasa untuk melepas dahaga dan menghilangkan rasa haus. Ia merasa haus dan meminta kepada wanita Samaria yang ingin mengambil air sumur itu: "Berilah Aku minum" (Yoh 4,7). Namun, sampai akhir kisah, Yesus tidak minum air sumur itu. Bukan hanya karena tidak diberi oleh wanita Samaria itu, tetapi karena Ia sendiri sebenarnya tidak membutuhkan air sumur itu. Ia memang haus, tetapi minumannya adalah melakukan kehehendak Allah yang mengutus-Nya (Yoh 4,34). Di atas kayu salib, sebelum wafat-Nya, Yesus juga berseru: "Aku haus" dan tak lama kemudian berkata: "Sudah selesai" (Yoh 19,28.30). Artinya, dengan wafat-Nya di salib, Ia telah menyelesaikan tugasnya, yakni melaksanakan kehendak Bapa yang mengutus-Nya (Yoh 4,34). Selain itu, Yesus juga menegaskan bahwa Ia sendiri yang akan memberikan air. Bukan air sumur tetapi air hidup. Dalam Kitab Suci, air seringkali dipakai untuk simbol kehidupan dan anugerah Roh Kudus atau tindakan Roh Allah dalam diri seseorang. Nabi Yeremia, misalnya, berbicara tentang air yang berasal dari sumber dengan air di dalam kolam (Yer 2,13): air dari sumber adalah air hidup yang tidak akan berkurang meskipun berulang kali diambil, sedangkan air dalam kolam akan berkurang bahkan habis kalau kita ambil secara terus menerus. Air hidup inilah yang ditawarkan oleh Yesus kepada kita semua. Ia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh Bapa, maka Ia sendiri menjadi sumber air hidup bagi kita, sumber keselamatan dan kehidupan bagi kita.
Berkaitan dengan suami, pertama-tama Yesus juga berbicara tentang suami sebagai seorang bapak keluarga, suami dari istri dan ayah dari anak-anak. Nanum, Ia kemudian berbicara tentang suami dalam arti simbolis. Dikatakan bahwa wanita Samaria tersebut sebelumnya telah memiliki 5 suami dan saat itu masih hidup bersama suaminya yang keenam. Yesus membenarkan wanita itu bahwa ia memiliki suami (Yoh 4,17-18). Semua itu, yang melambangkan berhala-berhala yang disembah orang-orang Asyur (2Raj 17,30-31). Secara simbolis relasi suami-istri melambangkan relasi antara Tuhan dengan umat-Nya (Yes 62,5; 54, 5). Suami yang sesungguhnya bagi umat beriman adalah Tuhan sendiri, sebagaimana Ia sendiri telah bersabda: "Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal Allah" (Hos 2,18-19). Yesus sendiri adalah sang suami yang telah datang untuk membawa hidup baru kepada istrinya, yakni Gereja (Mrk 2,19). Jika kita menerima Yesus, maka kita menyembah Allah dalam roh dan kebenaran, yakni tidak hanya berhenti dengan berdoa dan beribadah di tempat ibadah tetapi juga di mana pun berada dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang dipercayakan Bapa kepada kita.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar