Renungan Katolik *Bahasa Kasih*
_Selasa,_ *17 Maret 2020*
T.Dan 3:26,34-43
Mzm 25:4-9
Mat 18:21-35
*MENGAMPUNI*
_Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. -- Mat 18:22_
Berbicara selalu menjadi hal mudah. Orang bisa memberikan nasehat panjang lebar, tetapi belum tentu ia melakukan apa yang dikatakan. Seringkali ketika ada teman yang datang mengeluh tentang konflik yang mereka hadapi, kita akan meminta mereka untuk mengalah dan mengampuni. Akan tetapi, bagaimana ketika giliran kita yang berada di posisi mereka?
Mengampuni memang masalah keputusan, tetapi kita tetap harus mempersiapkan hati. Karena yang dilukai adalah hati atau perasaan kita, maka kita perlu mendengarkan hati kita dan tidak mengabaikan begitu saja. Mengenai perasaan hati dapat membantu kita untuk memaafkan orang yang menyakiti dengan lebih baik. Mengampuni tidaklah sama dengan melupakan. Yang diminta oleh Tuhan Yesus adalah mengampuni, bukan melupakan. Saya ingin menutup dengan sebuah cerita.
Seorang petani memiliki pohon apel di halaman rumahnya. Salah satu kebiasaannya adalah memaku batang pohon apel tersebut, lalu sesudah beberapa waktu paku itu dicabut. Tetapi sebagian tetap tertinggal. Kebiasaan ini diamati oleh anaknya yang masih kecil.
Setelah anak ini bertumbuh remaja, ia mulai memberanikan diri bertanya kepada ayahnya tentang kebiasaannya itu. Ayahnya menjawab, "Setiap kali ayah merasa terluka, ayah tidak membalas mereka. Tetapi ayah melampiaskan dengan memaku sebuah paku ke pohon ini dan ketika ayah sudah memaafkan, maka ayah akan mencabut pakunya. Pohon ini meninggalkan bekas paku, dan ini mengingatkan ayah untuk tidak mudah melukai orang lain, karena itu akan meninggalkan bekas." (An)
_Sudahkah memaafkan orang yang bersalah kepada saya?_
_Sudahkah saya meminta maaf kepada orang yang terluka karena saya?_
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar