Jumat, 27 Maret 2020

Sabtu, 28 Maret 2020
Hari Biasa Pekan IV Prapaskah
Yer. 11:18-20; Mzm. 7:2-3,9bc-10,11-12; Yoh. 7:40-53.

Kalau kita cemati, Injil Yohanes bab 7, dimana Injil hari ini merupakan bagian terakhirnya, menampilkan banyak sekali pertentangan yang berkaitan dengan pribadi Yesus. Saudara-saudara-Nya sendiri pun tidak percaya kepada-Nya (7,3-5). Orang banyak ada yang berpikir bahwa Yesus adalah orang baik (7,12a), tetapi ada pula yang berpikir bahwa Ia menyesatkan banyak orang (7,12b); sebagian mengatakan bahwa Ia adalah orang yang tidak terpelajar (7,15, sementara yang lain mengatakan bahwa Ia adalah nabi (7,40). Dalam Injil hari ini, para imam kepala dan orang-orang Farisi menilai negatif Yesus berdasarkan asal-usulnya, yakni dari Galilea. Berdasarkan Kitab Suci yang mereka pelajari, "tidak adan nabi yang datang dari Galilea" (7,52b). Maka, mereka tidak percaya dan tidak mengakui bahwa Yesus adalah nabi. Konsekuensinya, Ia harus dibinasakan karena menurut mereka Yesus telah berbuat seolah-olah sebagai nabi yang punya otoritas.
Mengapa muncul berbagai penilaian yang keliru dari banyak orang tentang Yesus, dengan akibat mereka tidak mau mempercayai dan mengakui-Nya, bahkan keluarga-Nya sendiri mengusir-Nya (7,3-5) dan orang-orang lain ingin membunuh-Nya (7,30)? Padahal mereka semua menggunakan argumen berdasarkan Kitab Suci! Rupanya, salah satu penyebab utamanya adalah mereka hanya berhenti pada Kita Suci Perjanjian Lama sebagai masa lampau saja. Mereka tidak melihat bahwa Perjanjian Lama sebenarnya persiapan untuk Perjanjian Baru. Apa yang tertulis dalam Perjanjian Lama bukan sekedar data dan peristiwa di masa lampau tetapi nubuat tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Bahkan, Yesus sendiri dengan tegas mengatakan: Selidikilah Kitab Suci, Musa telah menulis tentang Aku (Yoh 5,39.46). Demikian pula para nabi, misalnya Yesaya banyak bernubuat tentang Yesus (Yes 7,14;42,1-9; 49,1-6; 50,4-9; 52,13-53,12; 61,1-2).
Lalu, apa pesannya untuk kita? Salah satunya adalah agar kita tidak berhenti pada masa lalu sebagai masa lalu. Masa lalu kita lihat sebagai pengalaman untuk menapaki dan membangun masa depan. Ketika orang hanya fokus dan berhenti pada masa lalu, apalagi kalau masa lalu itu kurang bagus, ada kecenderungan untuk menjadi mandeg dan pesimis. Ada baiknya kisa selalu melihat pesan positif dari masa lalu. Entah masa lalu itu baik atau buruk, tetapi pasti ada pesan positifnya untuk masa depan kita yang lebih baik. Hidup kita bersama Yesus adalah berjalan ke depan.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar