1 Agustus 2018
(RD Josep Susanto)
Kira-kira setengahb bulan lalu aku mendapat surat tugas tambahan dari Bapak Uskup, yang berisi bahwa terhitung 1 Agustus 2018, aku diangkat menjadi Ketua Komisi Kitab Suci KAJ.
Selama ini, Romo Romanus Heri Santoso telah memegang tugas pelayanan dengan baik itu selama 8 tahun.
Aku merasa beruntung karena tugas baru ini sebenarnya sudah tidak asing untukku, karena itu duniaku. Selain itu, aku juga sudah diajak terlibat membantu Rm Romanus dalam beberapa tahun terakhir ini.
Tugas pelayanan menjadi Ketua Komisi Kitab Suci di KAJ bukanlah tugas sederhana.
Sebab seperti bacaan pertama Senin, 30 Juli lalu melalui Nabi Yeremia, Allah mengatakan bila umat tidak mendengarkan Firman Allah akan seperti ikat pinggang rapuh yang tidak berguna di pinggang Allah, artinya tidak bisa diandalkan oleh Allah.
Kotbah Bapak Uskup dalam pemberkatan rumah baru Seminari Tinggi Unit Samadi hari ini kiranya memberikan aku inspirasi dan semangat yang luar biasa.
Bapak uskup berbicara tentang 3 fase hidup nabi Yeremia.
Fase pertama ketika Yeremia berumur 19-25 tahun. Saat itu Yeremia sangat bersemangat menjalani tugas perutusannya sebagai nabi. Darah mudanya bergelora, meski ia ditolak oleh umat Israel. Ia tidak menyerah.
Fase kedua, ketika Yeremia berumur 26-47 tahun. Saat itu Yeremia putus asa. Ia mengalami keterpurukkan dan putus asa, sebab umat tidak juga mau bertobat dan mendengarkan pesan kenabiannya.
Saat itu Yeremia pun mengalami masa sulit di mana Allah berbalik ingin menghukum bangsa Israel. Allah menolak bangsaNya sendiri. Sampai-sampai Yeremia mengutuk hidupnya sendiri.
Fase ketiga ketika Yeremia berusia 48 tahun. Ketika bangsa Israel benar-benar dihukum, dibuang ke Babel.
Pada fase berat ini Yeremia dikuatkan oleh pewartaan nabi Hosea, yang menemani semangat kenabiannya.
Nabi Yeremia menyadari bahwa ia tidak boleh hanya mengandalkan kemampuannya sendiri. Ia tidak boleh berhenti dalam mengenal Allah.
Allah dialami secara baru, dari pada yang pada masa-masa sebelumnya. Allah menawarkan sebuah kesempatan baru, perjanjian baru, dan hidup baru bagi Israel dan bagi Yeremia sendiri.
Di sini Yeremia menyadari bahwa Allah adalah sebuah misteri, rancanganNya kadang sungguh berbeda dari pikiran manusia.
Jadi kalau disimpulkan ada 3 hal penting dalam hidup Yeremia yang bisa menjadi inspirasi kita:
1. Mengalami ketidakberdayaan. Setiap orang sudah/pernah/akan mengalami masa-masa tidak berdaya dalam hidup.
2. Persahabatan (pertemanan Yeremia dan nabi Hosea. Hosea adalah guru dari Yeremia, meski Hosea hidup 1 abad sebelum Yeremia).
3. Pengalaman akan Allah yang terus menerus diperbaharui. Tidak boleh puas dan berhenti dalam mencari dan mengenal Allah.
Selamat malam,
Semoga Tuhan memberkati tugas pelayananku yang baru ini.
Karena aku percaya, ada Tuhan dan teman-teman yang selalu menyertai dan menguatkan. 😇
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar