Rabu, 15 Agustus 2018

Bahagia Ala Surga
(RD Josep Susanto)

Perumpamaan tentang pengampu di Matius 18 yang kita dengar dalam Injil hari ini (16 Agustus 2018) adalah salah satu pengajaran Yesus yang menembus batas kemanusiaan kita.

Seorang hamba berhutang 10000 talenta (milyaran rupiah), lalu tidak sanggup membayar hutangnya. Ia minta si penghutang untuk bersabar. Luar biasanya si penghutang malah melunasi hutang orang itu.

Eh ternyata orang yang dilunasi hutang nya itu menghutangi temannya sebesar 100 Dinar (tidak sampai 1 juta). Temannya minta perpanjangan waktu, eh malah tidak dikasih, dicekik, lalu malah dimasukkan ke dalam penjara.

Si penghutang pertama mendengar hal itu langsung naik darah, membatalkan belas kasihnya dan memasukkan orang jahat itu ke dalam penjara.

Mungkin kalau kita akan tempel stiker di jidat si orang jahat itu dengan bermacam-macam cacian, seperti: nggak tahu diri, gak pernah bersyukur, air susu dibalas air tuba, kampret, tidak tahu diuntungkan, munafik, raja tega, bodoh, keterlaluan, dan sejuta makian lainnya.

Tetapi sadarkah kita, bahwa kata-kata itu sebenarnya lebih tepat ditujukan kepada DIRI KITA SENDIRI?

Bukankah kita sering melakukan hal yang sama:

Kita kejam dalam menghakimi orang lain, tanpa mau dihakimi sedikitpun.

Kita mudah melemparkan kesalahan pada orang lain, tanpa mau disalahkan karena selalu merasa benar sendiri.

Kita maunya dimaafkan, dipahami, dimengerti oleh orang lain, tanpa mau memaafkan, memahami dan mengerti orang lain.

Itulah DUNIA KITA.

Tuhan Yesus mengajarkan kita CARA SURGA, supaya kita bisa merasakan kebebasan sejati sebagai anak-anak Allah, yaitu kebebasan batin, melepaskan diri dari amarah, benci dan dendam. Istilahnya jaman now nya tidak punya "musuh hati".

Cara Tuhan yang diajarkan pada kita adalah MENGAMPUNI DENGAN SEGENAP HATI. Berapa kalinya tidak penting, tetapi berani total dalam mengampuni. Berani "selesai".

Ini bukan soal susah atau gampang, tetapi ke soal mau atau tidak.

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar