Kamis, 16 Agustus 2018

*PERCIKAN HATI*❤
Jum at, 17 Agustus 2018
🌟Motivasi Rohani

💫*HATI  YANG  PENGAP* 

Sering kali,  kita terjebak dalam kepengapan  yang mendalam. Pengap, karena berhadapan dengan situasi rumah tangga yang menjemukan. Seorang ibu berkata, “Saya ini hendak  bicara dengan suami takut salah dan jika tidak bicara  sepertinya hati menjadi tertekan.” 

Kehidupan komunitas yang tidak cocok pun – mungkin – seperti itu. Dalam satu rumah, main _kucing-kucingan._ Teman yang satu sengaja tidak hendak ingin berjumpa, maka ia berbuat seolah-olah sibuk. Masing-masing sibuk dan akhirnya malam pun diakhiri  tanpa  _completorium._

_“Rumahku istanaku”_  diganti dengan _“Rumahku nerakaku”._ Rumah atau biara atau pastoran _aura-nya_ menjadi pengap.  Pemandangan ini mirip dengan novel  berjudul  _Pompii_ yang ditulis oleh Robbert  Harris, penulis Inggris  – lahir tahun 1957 di Nottingham. 

 Meletusnya gunung Vesuvius pada tahun 79  membuat udara  kota Pompii panas dan orang-orang pun tersiram lahar panas dan tewas dalam sekejap. Dalam novel tersebut dilukiskan bagaimana kematian yang belum siap menimpa penduduk Pompii. Ada yang sedang memasak, ada yang sedang beraktivitas, ada yang sedang berlutut. Suatu pemandangan yang mengerikan.  Kita bisa membayangkan, betapa panasnya udara pada saat itu. Kota besar itu pun bagaikan  bilik yang sempit karena debu bercampur deru suara gunung yang menyembur-nyemburkan lahar panas.

Orang-orang kaya yang terperangkap dalam rumah mewahnya pun diwarnai rasa pengap yang mendalam. Dalam rumah tidak ada udara, lilin-lilin  pun mati, sehingga yang muncul hanyalah bisik-bisik doa yang ditujukan kepada patung  Jupiter,  _king of the kings_  dan Vulcanus, penguasa Gunung Api. 

Suasana hati yang pengap  – barangkali – pernah kita alami.  Kita pengap dengan lingkungan, pengap berelasi dengan _liyan_ dan pengap berhubungan dengan diri sendiri. Tidak perlu kuatir, karena cepat atau lambat,  kepengapan pun akan berkurang. Biarawan  trappist Amerika, kelahiran Prancis –  Thomas Merton (1915 – 1968) pun berkata, _“The more you try to avoid suffering, the more you suffer”_ – ketika Anda berusaha sekuat tenaga menghindari penderitaan, maka Anda akan lebih menderita.

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar