Selasa, 25 September 2018

Rabu, 26 September 2018
KatKit (Katekese Sedikit) No. 147

Seri Katekismus
SUNGGUH ALLAH SUNGGUH MANUSIA

Syalom aleikhem.
Mengapa Sang Firman menjadi manusia? Dalam Kredo Nikea-Konstantinopel, kita temukan jawaban ringkasnya: untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita. Oleh Dia, kita didamaikan kembali dengan Allah. Oleh-Nya juga, kita mengenal cinta Allah, yaitu bahwa Allah sangat mengasihi kita. Dengan mengenal cinta Allah, kita menuju ke kekudusan sebagaimana dicontohkan oleh Sang Firman yang menjadi manusia. Dengan itu semua, kita diikutsertakan dalam kodrat ilahi; dalam istilah Santo Athanasius, “kita diilahikan”.

Yoh. 1:14 menyatakan, “Firman telah menjadi manusia”. Berdasarkan ayat ini, Gereja Katolik memakai istilah “inkarnasi” untuk menyebut peristiwa penjelmaan Sang Firman yang mengambil kodrat manusiawi. Verbum caro factum est, bunyi Latinnya.

Dengan inkarnasi, bukan berarti Yesus Kristus menjadi setengah Allah dan setengah manusia, atau terjadi pencampuradukkan yang tak jelas antara unsur ilahi dan manusiawi. Ia sungguh manusia sekaligus sungguh Allah. Berabad-abad sejak zaman Para Rasul dan para bapa apostolik, Gereja Katolik (nama lengkapnya: Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik) mengajarkan kebenaran iman ini: Yesus Kristus sungguh Allah sungguh manusia. Konsili Nikea menegaskan ajaran iman sejak semula: Putra Allah “dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat (homousios) dengan Bapa.” Gereja mengakui bahwa Yesus Kristus sungguh Allah dan sungguh manusia secara tak terpisahkan.

Gereja Katolik mengajarkan, Ia [Putra Allah] telah bekerja memakai tangan manusiawi, Ia berpikir memakai akal budi manusiawi, Ia bertindak atas kehendak manusiawi, Ia mengasihi dengan hati manusiawi, Ia telah lahir dari Perawan Maria, sungguh menjadi salah seorang di antara kita, dalam segalanya sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Jiwa Kristus sungguh manusiawi, dengan akal budi dan kehendak manusiawi-Nya. Demikian juga tubuh-Nya, sungguh manusiawi. Namun sekaligus, kodrat manusiawi itu termasuk Pribadi Putra Allah yang ilahi. Sederhananya, baik dalam jiwa-Nya maupun dalam tubuh-Nya, Yesus Kristus menyatakan kehidupan Tritunggal Mahakudus secara manusiawi.

** Ikhtisar atas Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 456 – 470

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Katekis Daring

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar