Minggu, 11 November 2018

Renungan Katolik Bahasa Kasih
Senin, 12 November 2018

St. Yosafat

Tit 1:1-9
Mzm 24:1-6
Luk 17:1-6

SIAPA PANTAS MELAYANI?

Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang penilik jemaat harus tidak bercacat, tidak angkuh, bukan pemberang, bukan peminum, bukan pemarah, tidak serakah. Tit 1:7

Seorang pelayan Tuhan idealnya, orang yang dewasa dalam sikap maupun tingkat kerohaniannya. Sayangnya, yang ideal itu jumlahnya sedikit.

Salah satu bentuk pelayan Tuhan adalah prodiakon. Beberapa waktu lalu, pastor paroki kami mengungkapkan bahwa akan terjadi kekurangan prodiakon di tahun yang akan datang. Karena hampir separuh prodiakon sudah melayani selama dua priode berturut-turut, sehingga perlu ada regenerasi. Dengan demikian, para koordinator wilayah diminta untuk mencari calon-calon prodiakon di wilayahnya.

Nyatanya, ini tugas yang sulit. Banyak sekali yang menolak karena merasa belum pantas, masih berdosa, masih suka akan dosa.... Lalu, siapa yang pantas menjadi pelayan Tuhan?

Saya setuju bahwa pelayan Tuhan harusnya bukan orang sembarangan. Pelayan Tuhan yang sejati harus memiliki karakter melayani yang ditunjang dengan doa, iman, dan kasih. Karena tanpa ketiga hal itu, pelayanan tidak mempunyai jiwa. Seorang pelayan tanpa jiwa pelayanan akan mudah lelah dan tidak memiliki sukacita ketika melakukan pekerjaan pelayanan.

Oleh karena itu, penting bagi pelayan Tuhan untuk memiliki _saat teduh,_ waktu hening dan doa. Saat teduh dapat dilakukan kapan saja seperti di tengah kemacetan, ketika bangun tidur, saat malam sebelum tidur, atau saat yang memungkinkan kita untuk mengarahkan seluruh perhatian kita kepada Tuhan. Tidak perlu takut untuk menjadi pelayan Tuhan. Jadilah mata, tangan, dan kaki bagi Tuhan. (Yo)

Apakah saya masih menolak ketika diminta untuk menjadi pelayan Tuhan?

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar