Selasa, 20 Nov 2018
Pekan Biasa XXXII
Why. 3:1-6,14-22; Mzm. 15:2-3ab,3cd-4ab,5; Luk. 19:1-10.
"Berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ" (Luk 19,4).
Karena badannya yang pendek, Zakheus mengalami kesulitan untuk melihat Yesus dan berjumpa dengan-Nya. Syukur, ia menemukan sebatang pohon ara yang bisa dipanjat sehingga keinginannya untuk melihat "orang apakah Yesus itu" dapat kesampaian. Lebih beruntung lalu karena pada saat yang sama ternyata Yesus juga melihatnya. Dengan demikian, terjadilah perjumpaan antara Yesus dengan Zakheus, bukan hanya wajah dengan wajah dan mata dengan mata yang saling melihat, namun dua hati mereka pun saling menyatu. Yesus memberikan hati-Nya yang penuh belas kasih dan Zakheus membuka hatinya untuk menerima Yesus yang berkenan menumpang di rumahnya. Dua hal dapat kita tarik sebagai permenungan. Pertama, sudahkan kita menemukan "pohon ara" dalam kehidupan kita, yakni sarana apa pun yang membuat kita dapat melihat dan berjumpa dengan Yesus. "Pohon ara" itu bisa berupa doa, Kitab Suci, bacaan rohani, pelayanan, dsb. Kedua, apakah kita juga mau menjadi "pohon ara", yakni menjadi sarana bagi orang lain untuk melihat dan berjumpa dengan Tuhan?
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar