Minggu, 23 Desember 2018

Senen Pon, 24 Des 2018

MENCARI DAN MENEMUKAN ALLAH DALAM KEHENINGAN

*BACAAN*
*2Sam 7:1-5.8-12.16* – “Kerajaan Daud akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan Tuhan”
*Luk 1:67-79* – “Allah mengunjungi kita laksana fajar cemerlang”

*RENUNGAN*
1.Zakaria berada dalam keheningan, tanpa bicara, selama sembilan bulan lebih. Tentu ia frustrasi karena tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara normal. Dengan berjalannya waktu, frustrasi berubah menjadi penyerahan dan penerimaan. Melalui keheningan doa, ia mulai mencintai penderitaan yang datang dari Allah dan memeluknya dengan sepenuh hati, dan akhirnya ia beroleh sukacita. Penderitaan memiliki arti jika kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus. Maka ketika kita sedang menderita, merupakan kesempatan untuk berefleksi dalam keheningan, bukan mengeluh kesana kemari.

2.Sembilan bulan menjadi kesempatan bagi Zakaria untuk retret, di mana ia semakin dekat dengan Allah. Melalui doa, ia dibawa kepada pengalaman yang lebih dalam  tentang Allah dan menjadikannya seorang rasul lewat keinginannya untuk membagikan pengalamannya kepada orang lain. Dalam waktu 9 bulan,  Zakaria berubah menjadi seorang nabi. Ia menubuatkan bahwa keselamatan sudah dekat. Kita akan memiliki kata-kata bijak dan mampu menyemangati orang lain ketika kita berani berada dalam keheningan bersama Allah. Keheningan menjadi kendaraan untuk tercapainya kesatuan dengan Allah secara mesra.

3.Dalam penderitaannya, Zakaria mengingat kembali kata-kata malaikat, “sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di mana semuanya ini terjadi” (Luk 1:20). Harapan mengobarkan hatinya. Ia menyiapkan selama sembilan bulan untuk berbicara. Kata-kata pertama yang muncul dari mulutnya adalah sebuah pujian karena kerahiman-Nya terhadap manusia yang berdosa. Zakaria mengalami kerahiman Tuhan. Ketika kata-kata kita muncul dari meditasi yang mendalam, maka akan menghasilkan banyak buah. Keheningan menjadi faktor paling penting dalam kehidupan rohani kita. Dalam keheningan, kita mampu berefleksi, bersatu erat dengan Tuhan, dan memuji Allah. Bagaimana kalau Anda tidak pernah hening? (MS,berkat.id)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar