Minggu, 27 Januari 2019

Semoga FirmanNya Menyembuhkan Lukaku dan Lukamu
(RD Josep Susanto)

Ketika saya mempersiapkan kotbah hari Minggu, 27 Januari 2019, saya mencoba memahami Kitab Suci dari sudut pandang lain.

Saya memposisikan diri sebagai ORANG ORANG YANG HADIR dalam kisah kisah yang diceritakan dalam bacaan pertama dan bacaan Injil.

Loh maksudnya apa Mo?

Dalam Kitab Nehemia diceritakan Kitab Taurat dibacakan oleh Imam Ezra di depan seluruh umat Allah.

Apa yang terjadi?
Umat yang mendengar langsung berkata AMIN AMIN. Mereka langsung sujud menyembah, menangis dan memuji Allah.

Demikian juga dalam Bacaan Injil. Lukas mengisahkan dengan luar biasa kuasa Yesus ketika sedang membaca dan mengajarkan Kitab Suci.

Dikatakan semua mata orang yang hadir di situ tertuju pada Yesus. Mereka kagum dengan kata-kata indah yang dikatakanNya.

Nah pertanyaan saya adalah mengapa orang-orang yang saya sebut si atas bereaksi demikian?

Ada apa dengan mereka?

Situasi apa yang sedang mereka alami?

Padahal pendengar Imam Ezra itu hidup sekitar tahun 400 Sebelum Masehi.
Sedangkan pendengar Yesus sekitar 33 Masehi.

Meski mereka hidup dalam kurun waktu yang berbeda, tetapi nasib dan kemalangan mereka sama.

Orang orang jaman Nehemiah adalah orang-orang Israel yang kembali dari pembuangan Babel.

Penjajahan membuat mereka hancur, patah semangat, kehilangan identitas, imannya runtuh oleh penderitaan. Bait Allah, tanah, raja yang mereka banggakan musnah sudah.

Taurat hilang entah kemana, dilupakan dan tidak pernah dibaca lagi oleh umat selama ratusan tahun.

Mereka jadi bertanya:

Apakah Allah itu adil, setia?
Apakah Allah masih ada?
Apakah Allah masih berpihak pada umat pilihanNya?

Jaman Yesus sama, mereka kala itu dijajah oleh bangsa Romawi yang tidak kalah kejam dan sadis.

Jeritan, teriakan, rintih tangis mereka pun sama. Krisis iman yang berkepanjangan.

Nah umat yang seperti itu sudah sabgat rindu kasih dan pertolongan Allah.

Sementara jaman Yesus Kitab Suci hanya dibaca secara formalitas belaka, dibaca tanpa jiwa. Pembaca Kitab Suci kehilangan daya pikatnya, datar, basi, garing.

Makanya begitu Nehemiah dan Ezra menemukan gulungan Taurat di reruntuhan Bait Allah, langsung Taurat dibacakan di hadapan seluruh umat.

Dari Taurat yang sudah lama hilang itu, umat mendengar kembali kisah kasih Allah, janji Allah dan perjanjian yang telah dibuat Allah kepada nenek moyang mereka.

Mereka menyadari kesalahan dan dosa mereka karena tidak setia pada Allah.

Situasi yang sama terjadi pada jaman Yesus. Sekarang Sang Firman sendiri yang berbicara langsung nubuat Allah melalui nabi Yesaya.

Kini nubuat itu terpenuhi dalam diri Yesus. Allah telah datang melawat umatNya dan membebaskan umatNya.

Nah pertanyaan saya:

Para sahabat yang membaca renungan ini mungkin sedang mengalami persoalan yang sama.

Bentuk masalahnya berbeda-beda, tetapi berujung pada hal yang sama yaitu penderitaan yang tak berujung.

Biarkanlah kuasa dan kekuatan Firman Allah masuk dalam hati kita, mengkoreksi apa yang salah dan keliru, memberi kekuatan bagi kita untuk berjuang lagi, semakin menyadari bahwa perjuangan kita ditemani dan disertai oleh Tuhan.

Firman Tuhan itu benar, menyegarkan jiwa.
Semoga FirmanNya dan lukaku dan lukamu.
(Rm Josep Susanto)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar