Minggu, 17 Februari 2019

Senin,  18 Feb 2019
Pekan Biasa VI
Kej. 4:1-15,25; Mzm. 50:1,8,16bc-17,20-21; Mrk. 8:11-13.

Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata: "Mengapa angkatan ini meminta tanda?"

Pada waktu belajar membaca, kita tidak bisa membaca dengan baik dan lancar, apalagi indah. Mengapa? Salah satunya karena kita kurang atau belum bisa memperhatikan tanda baca dengan baik. Tanda-tanda baca tersebut ada, tetapi tidak/kurang kita perhatinan sehingga kita tidak bisa membaca dengan baik dan benar. Akibatnya, maksud yang hendak disampaikan oleh bacaan tersebut juga kurang dapat kita tangkap dengan jelas, bahkan bisa keliru sama sekali. Coba saja ketika ada orang membaca dengan mengabaikan koma, titik, tanda tanya, dll. Pasti kita tidak akan dapat menangkap dengan jelas maksud yang hendak disampaikan. Karena tidak mudeng atau tidak menangkap maksudnya dengan jelas, kita pun jadi jengkel. Nah, kurang lebih demikianlah kejengkelan Yesus karena banyak orang yang meminta tanda. Masalahnya bukan tidak ada tanda sehingga harus diminta. Tanda itu ada dengan amat nyata dan disertai dengan pesan yang amat jelas pula, yakni bahwa Allah mengasihi manusia dan menghendaki agar manusia bertobat. Tandanya adalah Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia untuk menunjukkan jalan pertobatan itu sekaligus untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia. Maka, yang dikehendaki Tuhan bukanlah meminta tanda tetapi memohon rahmat kebijaksanaan agar kita mampu membaca tanda-tanda yang diberikan Tuhan bahwa Ia amat mengasihi kita. Bukankah ini merupakan tanda kebaikan dan kasih Tuhan kalau Ia memberikan sakramen Ekaristi, sakramen pengampuan dosa, kesempatan khusus di masa prapaskah ini, dll.  Bahwa ia memberikan pekerjaan, memberikan anak-anak, memberikan orangtua, memberikan sinar matahari dan udara secara gratis, dll., ini semua juga tanda nyata bahwa Allah mengasihi kita. Dan puncaknya, Ia memberikan Putera-Nya sendiri sebagai korban demi keselamatan kita. Oleh karena itu, yang terpenting bagi kita adalah mohon rahmat sekaligus berusaha terus-menerus untuk mengasah kepekaan kita dalam menangkap dan menyadari kebesaran, kemahakuasan dan cinta kasih Tuhan yang nyata dalam hidup kita sehari-hari. Dengan demikian, kita akan lebih mudah untuk bersyukur dan mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan seperti persembahan yang dilakukan Abel, bukan seperti Kain (bacaan I).
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar