Minggu, 03 Februari 2019

Senin, 4 Feb 2019
Pekan Biasa IV
Ibr. 11: 32-40; Mzm. 31:20,21,22,23,24; Mrk. 5:1-20.

"Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" – Mrk 5,19

Kemarin, kita merenungkan Injil tentang Yesus yang ditolak di Nazareth. Hari ini, kehadiran Yesus pun masih mengalami penolakan. Orang-orang yang ada di kota dan kampung itu, setelah tahu apa yang dilakukan Yesus, "mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka" (Mrk 5,17). Namun, dalam Injil hari ini, kita juga menjumpai fakta lain: Yesus menolak permintaan orang yang sudah disembuhkannya untuk mengikuti-Nya. Ketika "orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta supaya ia diperkenankan menyertai Dia, esus tidak memperkenankannya" (Mrk 5,18-19). Dalam kedua kisah ini memang sama-sama terjadi penolakan: yang pertama Yesus ditolak, dan yang kedua Yesus menolak (tidak memperkenankan). Meskipun sama-sama berkaitan dengan fakta tentang "penolakan", namun berbeda makna dan pesannya. Orang-orang Nasaret menolak Yesus karena mereka tidak mengasihi dan menghargai Dia. Sebaliknya, Yesus menolak pemintaan orang yang disembuhkan-Nya, karena Ia mengasihinya dan sangat menghargainya. Karena Ia mengasihi oran itu, maka Ia menyembuhkannya dan membebaskannya dari kuasa roh jahat yang sangat membahayakan dirinya dan orang lain. Karena Yesus menghargai orang yang sudah sembuh itu, Ia menilai bahwa orang itu mampu untuk diutus bersaksi di kampung halamannya, tanpa terlebih dahulu mengikuti-Nya. Bagi Yesus, pengalaman akan kasih Allah itu sudah cukup untuk bersaksi. Dan, memang inilah makna bersaksi yang sesungguhnya: “menceritakan segala sesuatu yang telah diperbuat Tuhan kepada kita dan bagaimana Ia telah mengasihi kita”. Bersaksi itu bukan menceritakan kehebatan dan prestasi-prestasi kita, tetapi menceritakan pengalaman dikasihi oleh Tuhan. Selain itu, kita bersaksi tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi mesti dengan tindakan juga. Artinya, kita bersaksi tentang pengalaman dikasihi Tuhan dengan cara mengasihi orang lain agar, melalui kita, mereka pun juga merasakan kasih-Nya.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar