Minggu, 03 Februari 2019

KEBAIKAN TUHAN YANG MENGGERAKKAN
(RD Josep Susanto)

Hari Minggu siang saya dijemput oleh salah satu pasangan suami istri paling fenomenal di Jakarta. Bukan Anang-Ashanty, bukan Dewi Persik-Saipul Jamil. Tetapi mereka adalah Pak Yanto Wibisono dan Ibu Wiwiek.

Merekalah pencetus gerakan ASAK (Ayo Sekolah Ayo Kuliah) di KAJ, 12 tahun yang lalu. Gerakan ini berjuang untuk membantu anak anak yang terancam putus sekolah atau putus kuliah, dengan memberi bantuan dana, meningkatkan ketrampilan, mencari penyantun, serta pendampingan anak serta orang tua ASAK.

Dan sebagaimana kita tahu, hampir di semua paroki di KAJ, gerakan ini sudah menjadi inspirasi, dan menggerakan hati banyak orang.

Alumni anak ASAK yang SUDAH dibantu berjumlah sekitar 2000 anak, ada yang sudah jadi dokter, guru, karyawan kantoran, wirausaha, masuk seminari, dan lain sebagainya.

Jumlah itu belum dihitung anak anak yang SEDANG dibantu, ada 6000 anak .

Pak Yanto dan istrinya menjemput saya untuk mengunjungi seorang anak ASAK yang sedang sakit cukup serius.

Nama anak ini BRIGITTA, biasa dipanggil GITA. Ia mengalami sakit PENGERASAN HATI. Berasal dari keluarga sederhana, asal Pontianak, pindah ke Jakarta, supaya biasa lebih mudah berobat.

Beberapa pengobatan sudah dilalui, sampai jual rumah mereka di Pontianak. Papanya seorang dosen negeri di Kalimantan. Gita harus transplantasi hati dengan biaya yang sangat besar.

Mungkin teman teman Rm Jo pernah dapat broadcast WA sekitar akhir Desember lalu, ada satu gerakan namanya #savebrigitta.

Dari gerakan itu terkumpullah sejumlah dana yang lumayan besar, tetapi tidak sebanding dengan biaya yang dibutuhkan.

Ketika saya sampai di kontrakan keluarga Gita, di sebuah Apartemen Robinson, Paroki Stella Maris, saya berkenalan dengan satu pasang suami istri lain yang sudah menunggu kami, namanya Pak Andi dan istrinya.

Kami naik ke lantai 11, Gita sedang berbaring lemah, badannya kurus, kulit dan matanya sudah berwarna kuning. Dia sedang kesakitan punggungnya, karena ternyata ada penyakit tulang juga.

Papa mamanya cerita bagaimana perjuangan mereka keluar masuk rumah sakit. Mereka telah berjuang sebagaimana yang bisa dilakukan oleh orang tua.

Betul-betul kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Dioper-oper sana sini oleh dokter dan rumah sakit, tebus obat, sudah jadi makanan sehari hari mereka.

Di kamar yang tidak luas itu kami bersharing, berdoa, dan saling menguatkan.

Dalam sharingnya, Pak Andi dan istrinya bercerita pengalaman mereka. Betapa mereka mengalami kasih Tuhan ketika mereka harus BERGULAT mendampingi putra pertama mereka yang mengalami penyakit langka, yaitu sejak lahir tulang-tulangnya tidak punya perekat, jadi gampang sekali patah tulang.

Sejak kecil, Calvin, putra mereka sudah ratusan kali patah tulang, tidak bisa berjalan, tulangnya tidak berkembang tetapi orang tubuh lain berkembang. Mereka berjuang merawat Calvin, sampai putra mereka meninggal ketika kelas 6 SD.

Suka dukanya dasyat sekali, pergulatan dan lika likunya di luar apa yang bisa kita pikirkan. Meski punya kelainan fisik, Calvin adalah anak yang luar biasa cerdas dan sangat dewasa pemikirannya.

Suatu ketika tiba-tiba mereka dibantu oleh orang yang tidak mereka kenal untuk berobat di Singapore.

Mereka harus bergulat lagi ketika mereka memiliki anak kedua. Mereka sangat ketakutan penyakit genetik.

Pergulatan mereka, rasa marah mereka, berakhir pada sebuah proses penyerahan diri mereka kepada Tuhan. Ternyata Calvin lah yang banyak mengajarkan mereka tentang makna hidup.

Sama dengan kasus saya, orang tua Calvin setelah bergulat panjang akhirnya bisa BERDAMAI. Mereka berserah pada kuasa kasih Tuhan, berdamai dengan salib keluarga mereka. Sampai mereka menemukan ada 1 rencana Tuhan yang indah dibalik sakit anak mereka.

Pengalaman-pengalaman dikasihi oleh Allah seperti inilah yang mendorong dan mempertemukan Rm Josep, Pak Yanto, Bu Wiwiek, Pak Anda dan istrinya, juga banyak orang di luar sana untuk peduli dengan nasib Gita.

Saudara bukan, kenalan bukan, tetapi ada 1 yang mempersatukan yaitu KEBAIKAN-KEBAIKAN TUHAN yang telah dialami.

Inilah yang persis saya temukan dalam bacaan Injil hari ini dalam kisah pengusiran setan di Gerasa.

Yesus melarang orang yang sembuh itu untuk ikut diriNya. Yesus mengutus orang itu pulang ke kampungnya, untuk MENCERITAKAN apa yang telah Tuhan lakukan untuk dirinya dan betapa Tuhan mengasiani dirinya.

Bersama renungan ini, saya Rm Josep mengacak teman teman untuk berdoa buat keselamatan Brigitta. Tolong bawa anak ini dalam doa doa teman-teman.
(Rm Josep)

Salam Damai Kistus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar