Senin, 19 Agustus 2019

Selasa, 20 Agustus 2019
Pekan Biasa XX, Pw. St. Bernardus
Yeh. 28:1-10; MT Ul. 32:26-27ab,27cd-28,30,35cd-36ab; Mat. 19:23-30.

"Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." (Mat 19,24)

Lubang jarum itu sangat kecil. Untuk bisa memasukkan benang dibutuhkan kejelian dan ujung benang yang rapi. Nah, pintu yang disebut lubang jarum oleh bangsa Yahudi adalah pintu yang bentuknya sempit memanjang, berada di tembok pembatas kota dan hanya digunakan pada saat pintu gerbang kota sudah tutup. Ada sejumlah tentara yang berjaga di situ dan siapa pun yang hendak lewat atau memasukinya, harus diperiksa. Unta, yang pada masa itu biasa dipakai sebagai binatang tunggangan dan angkutan barang, masih bisa melewatinya asal penumpang dan barang-barangnya diturunkan terlebih dahulu. Setelah barang-barang diturunkan, unta juga harus ditarik masuk ke dalam pintu lubang jarum tersebut. Unta adalah binatang yang jinak dan penurut. Namun, ia harus diperintah dan dituntun untuk bisa berjalan masuk dan melewati pintu sempit tersebut.
Yesus menggunakan peristiwa masuknya unta melewati lubang jarum sebagai perbandingan orang masuk ke surga. Bagi-Nya, lebih mudah menarik dan menuntun unta masuk melewati pintu lubang jarum daripada menuntun orang (kaya) masuk surga. Mengapa? Unta, ketika barang-barang yang melekat ditubuhnya dilepas dan diturunkan, ia diam saja, manut. Ketika dituntun dan ditarik untuk memasuki dan melewati pintu lubang jarum, ia juga mudah dan menurut begitu saja. Berbeda dengan kita, yang seringkali amat sulit untuk melepaskan apa yang kita miliki, termasuk melepaskan harta kekayaan dan mendermakannya kepada orang lain. Yang lebih sering kita pikirkan justru bagaimana caranya agar kekayaan dan tabungan kita semakin bertambah.
Kata kaya di atas saya beri tanda kurung. Sebab, sulit melepaskan hal-hal yang sebenarnya justru membebani hidup kita, merupakan masalah umum yang kita hadapi, bukan hanya orang kaya. Bahkan, ada sangat banyak orang yang kaya tetapi dengan mudah melepaskan dan membagikan harta kekayaannya demi kesejahteraan orang lain. Selain itu, yang sulit kita lepaskan, bukan hanya harta kekayaan saja. Kita juga sulit untuk melepaskan hal-hal lain yang membebani hidup kita: sulit melepaskan pengampunan, tidak mau membuang dendam, prasangka buruk, kebencian, dll. Akibatnya, kita juga sulit untuk diam dan menurut ketika dituntun dan diarahkan oleh Yesus untuk memasuki jalan-Nya yang sempit dan kadang juga sulit. Semoga, berkat pencerahan dari sabda Yesus ini, kita semakin mudah untuk melepaskan diri dari berbagai macam ikatan yang membebani dan menghalangi kita untuk berjalan di jalan Tuhan. Semoga kita juga lebih menurut untuk diarahkan dan dituntun oleh Tuhan melewati jalan-Nya, yakni jalan keselamatan.

--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar