Sabtu, 14 September 2019

Minggu, 15 September 2019
Hari Minggu Biasa XXIV
Kel. 32:7-11,13-14; Mzm. 51:3-4,12-13,17,19; 1Tim. 1:12-17; Luk. 15:1-32 (Luk. 15:1-10).

Injil hari ini, kalau dibaca lengkap (versi panjang) terdiri dari 3 perumpamaan tentang yang hilang: domba yang hilang, dirham yang hilang, anak yang hilang. Namun, fokus utama yang hendak disampaikan sebenarnya bukan tentang yang hilang ini. Bukan tentang domba, dirham, dan anak yang hilang, tetapi tentang sikap sang pemilik yang mencari dan menunggu sampai yang hilang itu kembali. Kalau dikaitkan dengan sikap orang-orang Farisi yang ahli-ahli Taurat yang tidak terima karena Yesus menerima dan bersahabat dengan orang-orang berdosa, ketiga perumpamaan ini dimaksudkan untuk menampilkan gambaran yang baru tentang Allah. Gambaran seseorang tentang seperti apa Allah itu, sangat mempengaruhi pola berpikir dan bertindak. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berpikir seperti itu karena mereka memiliki gambaran tentang Allah yang jauh tak terjangkau dan sebagai hakim yang kejam dalam mengadili dan menghukum. Yesus, dengan sikap-Nya yang mau berdekatan dan bersahabat dengan orang-orang berdosa, hendak merombak sekaligus memperbarui gambaran mereka tentang Allah. Allah bukanlah Dia yang jauh dan tak terjangkau; juga bukan hakim yang kejam dan penghukum. Yesus hendak menampilkan Allah sebagai Bapa yang dekat dengan anak-anak-Nya, yang penuh belas kasih dan pengampunan, yang memberi perhatian khusus pada masing-masing anak-Nya satu persatu, yang mencari sampai ketemu jika ada anak-Nya yang hilang, sembunyi, salah jalan, atau menjauh dari-Nya.
Namun, gambaran tentang Allah yang demikian, tentunya tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran bagi kita untuk tetap dan terus-menerus berdosa. Toh Tuhan tetap menerima kita. Toh Tuhan tetap bersahabat dengan kita. Toh Tuhan tetap mengampuni kita. Memang benar! Tetapi Tuhan mendekati, bersahabat, dan mengampuni kita orang berdosa tujuannya agar kita bertobat. Ia mencari kita yang tersesat agar kita ditemukan kembali dan selanjutnya berjalan di jalan yang benar. Dan kapan sukacita itu terjadi? Saat yang hilang ditemukan dan kembali. Artinya saat kita bertobat dan terus-menerus memperbarui serta memperbaiki diri.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar