Rabu, 11 September 2019
Pekan Biasa XXIII
Kol. 3:1-11; Mzm. 145:2-3,10-11,12-13ab; Luk. 6:20-26.
Kalau kita membaca Injil Lukas dengan teliti, pada bagian-bagian awal berulang kali disebutkan bahwa Yesus mengajar banyak orang tetapi tidak dijelaskan isi pengajaran-Nya (Luk 4,15.31-32.44; 5,1.3.15.17; 6,6). Sekarang, setelah melihat begitu banyaknya orang yang antusias untuk mendengarkan pengajaran-Nya, Lukas mulai menyampaikan isi pengajaran Yesus, diawali dengan "Ucapan bahagia dan peringatan", yang terdiri dari 4 sabda bahagia dan 4 sabda celaka. Kalimat pengantar yang mengatakan, "Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata", menunjukkan bahwa pengajaran Yesus ini dialamatkan kepada murid-murid-Nya. Pada waktu itu, semua orang yang datang kepada Yesus dan menjadi murid-Nya adalah orang-orang miskin. Maka, Yesus memberikan peneguhan kepada mereka: "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah". Ini bukan janji yang akan terlaksana pada waktu yang akan datang, tetapi realitas yang sudah mulai terlaksana. Dalam bahasa aslinya, baik Yunani maupun Latin, digunakan kata kerja present, bukan future. Namun, kemiskinan itu tidak sendirinya menjadikan orang sebagai empunya Kerajaan Allah. Dalam Injil Mateus, Yesus mengatakan: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah" (Mat 5,3). Jadi, kemiskinan yang dimaksud oleh Yesus adalah kemiskinan yang dihayati sebagai ketergantungan dan kepasrahan total pada Allah. Yesus sendiri memberikan teladan: Ia rela menjadi miskin, sekalipun Ia kaya (2Kor 8,9). Ia tidak mengumpulkan kekayaan untuk diri-Nya sendiri, tetapi sebaliknya, justru memberikan dan membagikan semua yang Dia miliki demi kesejahteraan dan keselamatan semua orang. Demikian pula halnya dengan kita. Kita akan menjadi empunya Kerajaan Allah, kalau kita menghayati semangat miskin di hadapan Allah: menggantungkan diri dan pasrah secara total kepada Allah, sekaligus rela memberikan dan membagikan apa yang kita miliki demi kesejahteraan bersama.--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar