Kencan Dengan Tuhan
Rabu, 11 September 2019
Bacaan: Efesus 4:26 (TB) "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu."
Renungan:
Zeth, empat tahun, ketika bangun tidur mendapati anak anjing yang baru dibelinya telah merusakkan gitar plastik kesayangannya. Ia marah dan menangis sejadi-jadinya. Hal ini membuat mamanya marah sehingga membentak suaminya, Pak Nathan yang akan ke kantor. Karena marah dengan perlakuan istrinya tersebut, Pak Nathan pun bersikap kasar kepada sekretarisnya di kantor. Suasana hati sang sekretaris menjadi tidak enak dan saat istirahat minum kopi, ia memarahi office boy di kantornya karena masalah kecil saja. Di akhir jam kantor, office boy tersebut menghadap atasannya untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Sang atasan jengkel dan kecewa dengan pengunduran diri office boynya yang mendadak tersebut. Satu setengah jam kemudian, setelah berjuang di tengah kepadatan lalu lintas, sang atasan masuk rumah. Lalu ia menumpahkan kemarahan kepada Tian anaknya yang kecil karena meninggalkan sepedanya di depan gerbang garasi. Tian masuk ke kamarnya dengan kesal, membanting pintu dan menendang anjing kesayangannya.
Demikianlah terus berlanjut, kemarahan yang berawal dari seorang anak kecil, kini menimbulkan kemarahan untuk banyak orang sehingga menimbulkan berbagai macam kerugian dan rasa sakit hati. Jika kita renungkan, dampak dari sebuah kemarahan sangatlah besar. Musa perah kesal dan marah karena keluh kesah orang Israel yang kehausan, sehingga ketika Tuhan berkata kepada Musa agar ia memerintahkan batu mengeluarkan air, Musa malah memukul batu itu. Mujizat memang terjadi, tetapi pada akhirnya Musa tidak bisa masuk ke tanah perjanjian.
Apakah saat ini kita masih menyimpan kemarahan kepada orang lain, atau apakah kita begitu mudah marah dan dengan gampangnya meluapkan kemarahan tanpa berpikir efek berantai yang bisa ditimbulkannya, ataukah kita seringkali melemparkan kemarahan kepada orang lain yang tidak bersalah sebagai akibat kesalahan yang kita lakukan? Marilah kita mulai menata hati kita, sehingga saat kita marah, kita bisa mengendalikan emosi kita, agar tidak banyak hati yang terluka akibat kemarahan kita. Tuhan memberkati.
Doa:
Tuhan Yesus, ampunilah aku karena perkataanku saat marah sering melukai hati orang lain. Aku tidak menyadari sudah berapa banyak hati yang terluka akibat kemarahanku. Ampunilah aku ya Tuhan dan berilah aku kesabaran yang berasal dariMu. Amin. (Dod).
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar