Senin, 14 Okt 2019
Pekan Biasa XXVIII
Rm. 1:1-7; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Luk. 11:29-32.
Pada waktu belajar membaca, kita tidak bisa membaca dengan baik dan lancar, apalagi indah. Mengapa? Salah satunya karena kita kurang memperhatikan tanda baca. Tanda-tanda baca tersebut ada, tetapi tidak/kurang kita perhatinan sehingga kita tidak bisa membaca dengan baik dan benar. Akibatnya, maksud yang hendak disampaikan oleh bacaan tersebut juga kurang dapat kita tangkap dengan jelas, bahkan bisa keliru sama sekali. Saya rasa demikian pula kita menangkap kejengkelan Yesus atas banyak orang yang meminta tanda. Masalahnya bukan tidak ada tanda sehingga harus diminta. Tanda itu ada dengan amat nyata dan disertai dengan pesan yang amat jelas pula, yakni bahwa Allah mengasihi manusia dan menghendaki agar manusia bertobat. Tandanya adalah Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia untuk menunjukkan jalan pertobatan itu sekaligus untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia. Maka, yang benar bukanlah meminta tanda tetapi memohon rahmat kebijaksanaan agar kita mampu membaca tanda-tanda yang diberikan Tuhan bahwa Ia amat mengasihi kita. Bukankah ini merupakan tanda kebaikan dan kasih Tuhan kalau Ia memberikan sakramen Ekaristi, sakramen pengampuan dosa, kesempatan khusus di masa prapaskah ini, dll. Bahwa ia memberikan pekerjaan, memberikan anak-anak, memberikan orangtua, memberikan sinar matahari dan udara secara gratis, dll., ini semua juga tanda nyata bahwa Allah mengasihi kita. Dan puncaknya, Ia memberikan Putera-Nya sendiri sebagai korban demi keselamatan kita.
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar