Sabtu, 21 Maret 2020

Minggu, 22 Maret 2020
Minggu Prapaskah IV
1Sam 16:1b.6-7.10-13a; Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6; Ef 5:8-14; Yoh 9:1-41

"Akulah terang dunia" (Yoh 9,5)

Dalam setiap aktivitas, kita selalu membutuhkan terang. Kita bekerja, belajar, berjalan, bercakap-cakap, berdoa, dan lain sebagainya, selalu membutuhkan terang. Demikian pula, dalam penziarahan iman kita, kita membutuhkan terang. Syukur kepada Allah karena Yesus menjadikan diri-Nya terang dunia. "Barangsiapa mengikuti Aku mempunyai terang hidup" (Yoh 8,12), demikian Ia menegaskan. Oleh karena itu, marilah kita mengikuti sikap iman Samuel dan si buta yang disembuhkan oleh Yesus.
Samuel, ketika harus memilih satu dari antara anak-anak Isai untuk diurapi menjadi raja Israel, sempat mengalami kebingunan dan nyaris salah pilih. Untung, dia mendengarkan sabda Tuhan yang menerangi hati dan budinya sehingga akhirnya ia dapat menjatuhkan pilihan secara tepat dengan mengurapi Daud. Marilah kita juga selalu mendengarkan bimbingan Tuhan dalam melakukan pilihan-pilihan dalam hidup kita. Pasti, Ia selalu menerangi kita sehingga kita dapat memilih yang baik dan benar.
Si Buta, karena ketaatannya pada Yesus untuk membasuh diri di kolam Siloam, ia menjadi sembuh. Bahkan, ia tidak hanya dapat melihat tetapi juga mengenal Yesus. Mula-mula, ia mengenal-Nya sebagai "orang yang disebut Yesus" (ay.11), kemudian sebagai "seorang nabi" (ay.17), dan akhirnya sebagai "Tuhan" (ay.38). Demikianlah, kalau kita mengikuti bimbingan Tuhan, kita juga akan semakin dimampukan untuk mengenal-Nya. Dia sendirilah yang membuka mata hati dan menerangi kita sehingga kita juga mampu hidup sebagai anak-anak terang yang senantiasa membuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran (bac II).
Hari-hari ini, di tengah mewabahnya coronavirus, kita pun kadang juga mengalami kebutaan. Tidak tahu apa yang harus kita buat. Syukur karena Tuhan memberikan terang kepada kita melalui Pemerintah dan para pemimpin Gereja. Mereka telah membuat aturan-aturan yang menerangan hidup kita: apa yang harus dan sebaiknya kita buat dan apa yang harus kita hindari. Dalam hal ini, saya melihat keduanya seiring dan sejalan. Dalam Maklumatnya tg. 19 Maret 2020 (Mak/2/III/2020) Kapolri menegaskan “Salus Populi Suprema Lex Esto” (Keselamatan Masyarakat adalah Hukum Tertinggi). Sangat pas dengan Hukum Gereja (Kitab Hukum Kanonik) Kanon 1752 yang menegaskan “Salus Animarum Suprema Lex Est” (Keselamatan Jiwa-jiwa adalah Hukum Tertinggi).

Dalam hal ini, memang harus dikatakan bahwa hukum bukanlah penyelamat kita. Satu-satunya Penyelamat kita adalah Tuhan sendiri. Namun, saya sendiri yakin bahwa hukum yang jelas mengutapakan keselamatan kita, berasal dari Tuhan. Atau paling tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, taat pada hukum adalah salah satu cara untuk menerima dan membagikan rahmat keselamatan yang dianugerahkan Tuhan; salah satu sarana untuk menerima terang dari Tuhan dan memancarkannya kembali kepada sesama.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar