Minggu, 8 Maret 2020
HARI MINGGU PRAPASKAH II
Kej. 12:1-4a; Mzm. 33:4-5,18-19,20,22; 2Tim. 1:8b-10; Mat. 17:1-9.
Kisah tentang transfigurasi atau Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di atas bukit diceritakan oleh ketiga Injil sinoptik (Mat 17,1-9; Mrk 9,2-8; Luk 9,28-36). Ditemukan juga dalam Surat Petrus yang kedua (2Ptr 1,16-18). Mateus, sebagaimana tampak dalam Injil yang kita baca dan renungkan hari ini, menempatkan peristiwa transfigurasi segera setelah pemberitahuan pertama tentang sengsara yang akan dialami Yesus dan syarat-syarat mengikuti Dia, juga penegasan tentang pemuliaan Anak Manusia dalam Kerajaan Allah (Ma7 16.21-28). Sebelum dimuliakan, Yesus harus pergi ke Yerusalem untuk menggenapi Misteri Paskah, yakni sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya (Mat 16,21). Mereka yang ingin menjadi murid-Nya harus menyangkal diri, memikul salibnya masing-masing, baru kemudian mengikuti Dia (Mat 16,24). Hanya dengan cara demikian, kita akan dapat ikut serta dalam kemuliaan-Nya. Dengan demikian, penempatan peristiwa transfigurasi setelah pemberitahuan tentang sengsara Yesus dan syarat-syarat mengikuti Dia, jelas ingin menunjukkan bahwa antara jalan salib dan kebangkitan atau antara derita dan kemuliaan itu tidak bisa dipisahkan. Tidak ada jalan salib tanpa kebangkitan dan tidak ada kebangkitan tanpa didahului jalan salib. Tidak ada derita tanpa kemuliaan dan tidak ada kemuliaan tanpa didahului dengan derita. Namun, jalan salib dan derita apa pun yang kita alami, hanya akan mengantar kita pada kebangkitan dan kemuliaan, kalau kita jalani sambil mengikuti Yesus. Itulah mengapa, Yesus mengajak Petrus, Yohanes, dan Yakobus untuk mengikutinya naik ke bukit dan melihat kemuliaan-Nya. Kita tahu bahwa sebelumnya, Petrus ditegur Yesus karena tidak mengerti dan tidak mau menerima derita yang harus dialami Yesus. Dengan mengajaknya untuk melihat kemuliaan-Nya, seolah-olah Yesus hendak menegaskan kepada Petrus: "Kamu akan mengalami kemuliaan bersama-Ku, hanya kalau kamu mau menerima derita yang harus Kualami, sekaligus mengikuti juga di jalan salib sambil menyangkal diri dan memikul salibmu sendiri". Kata-kata yang sama juga disampaikan kepada kita masing-masing.
--
Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau;
Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia;
Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.
(Bil 6,24-26)
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar