Sabtu, 07 Maret 2020

SANTAPAN SABDA
Minggu Prapaskah 2
Kej. 12:1-4a; 2Tim. 1:8b-10
Mat. 17:1-9

MAKNA DI BALIK MISTERI PENDERITAAN KRISTUS

Ada seorang pemuda yang ingin memiliki tato bergambar singa pada punggungnya. Pada suatu hari ia pergi kepada seorang ahli pembuat tato dan  meminta dibuatkan tato pada punggungnya. Namun ketika pembuat tato itu menancapkan jarum pertama pada kulitnya, orang itu berteriak-teriak: “Aduh ... sakit sekali. Bagian apa yang sedang kau buat?” “Saya sedang buat kepala singa”, jawab tukang tato itu. “Ah ... tidak usah gambar kepalanya.” Sang pembuat tato pun mengikutinya. Setelah beberapa saat, pembuat tato itu melanjutkan pekerjaannya. “Aduh ... bagian apa lagi yang sedang kamu gambarkan itu?”, teriak pemuda itu mengagetkan sang pembuat tato. ”Sekarang saya sedang menggambar badan singa”. “Aduh ... tidak usah gambar badannya”, perintah orang itu lagi. “Baiklah, jika demikian keinginan Anda”, jawab pelukis itu. Tidak lama kemudian, pembuat tato itu melanjutkan pekerjaannya. Namun, baru saja ia menusukkan jarum beberapa kali pada tubuh pemuda itu, anak muda itu segera menarik tangan sang pelukis dan memintanya berhenti. “Bagian apa yang kamu lukiskan sekarang?” tanya pemuda itu. “Saya baru mulai melukis bagian kaki singa”, jelas pelukis itu. “Ah ... persetan dengan kaki singa itu. Tidak usah gambar kakinya.” Mendengar permintaan terakhir itu, sambil menatap wajahnya pelukis itu berkata, “Anak muda, bagaimana mungkin engkau menggambar tato singa tanpa kepala, tanpa badan, dan tanpa kaki? Adakah singa seperti itu? Minta maaf, saya tidak bisa melakukannya, dan saya kira pelukis mana pun tidak bisa melakukannya.” Sesudah itu ia meninggalkan orang muda itu.

*******
Sang pemuda dalam cerita itu ingin memperoleh tato bergambar singa pada tubuhnya, tetapi tidak ingin menderita kesakitan akibat tusukan jarum. Ia ingin memperoleh hasil tetapi tidak ingin berkorban. Pesan dari cerita itu kiranya cukup jelas. Kita tidak mungkin mendapatkan apa yang kita inginkan dalam hidup kalau kita tidak mau berkorban. Orang harus berkorban dan menderita sebelum menikmati hasil. Susah-sudah dahulu senang-senang kemudian.

*******
  Peristiwa transfigurasi seperti yang diceritakan di dalam Injil hari ini merupakan titik balik di dalam kehidupan Yesus. Ketika dibaptis di sungai Yordan beberapa tahun sebelumnya, Yesus menjadi sadar akan misi-Nya, ketika Ia mendengar suara dari langit, “Engkaulah Putra-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk. 3:22). Sejak saat itu, Yesus memiliki rasa percaya diri yang luar biasa. Sekarang situasi sudah berubah. Banyak orang yang memusuhi-Nya. Karena itu, Yesus pergi ke atas gunung untuk berdoa dan menemukan arti dari segala sesuatu yang menimpa diri-Nya. Di atas bukit itulah Dia bertemu dengan tokoh penting dari Perjanjian Lama, yaitu Musa dan Elia dalam kemuliaan.

Dalam hidupnya Musa dan Elia mengalami permusuhan dari orang-orang yang mereka tolong. Di atas gunung itu, keduanya berbicara dengan Yesus tentang perjalanan-Nya ke Yerusalem. Perjalanan Yesus itu ibarat perjalanan Musa dari Mesir menuju Tanah Terjanji di mana ia mendapat banyak kesulitan dari orang-orang Israel yang dilayaninya. Perjalanan itu juga sama dengan perjalanan Nabi Elia menuju Gunung Karmel di mana ia harus melawan nabi-nabi palsu sebagaimana diceritakan di dalam 1Raj. 18.

Musa dan Elia berbicara kepada Yesus tentang arti dari perjalanan-Nya ke Yerusalem. Di Yerusalem Dia akan ditolak bangsa-Nya sendiri. Di Yerusalem, Dia akan mengalami penderitaan, penyaliban dan kematian. Meskipun demikian, kematian bukanlah akhir yang tragis. Sebaliknya, sebagaimana Laut Merah adalah pintu menunju Tanah Terjanji, demikianpun penderitaan dan kematian merupakan pintu masuk menuju kehidupan baru. Sekalipun Yesus harus mati di kayu salib, tetapi pada hari ketiga Ia akan bangkit dari antara orang-orang mati. Itulah makna dari percakapan antara Yesus, Musa, dan Elia, dan itu pula makna mengapa peristiwa transfigurasi atau peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung ditempatkan dalam Minggu kedua masa Prapaskah.

*********

Jalan yang ditempuh oleh Yesus adalah juga jalan yang ditempuh oleh setiap orang yang mau mengikuti-Nya. Kebangkitan diperoleh melalui kematian. Kebahagiaan diperoleh melalui pengorbanan. Kemenangan diperoleh melalui salib. Yesus sendiri pernah bersabda: “Barang siapa mau mengikuti Aku, hendaknya ia menyangkal diri, memikul salibnya setiap hari dan mengikuti Aku.” Tetapi salib setiap orang tentu berbeda-beda. Bagi sebagian orang, salib itu barangkali tampak dalam sakit yang berkepanjangan, usia lanjut, ketidak-adilan, kesusahan yang beruntun. Namun, yakinlah bahwa Tuhan tidak akan memberikan kepada kita salib yang tidak mampu kita pikul. Kadang-kadang salib-salib itu menjadi berat karena kita tidak rela menerimanya, melainkan banyak mengeluh dan kadang-kadang mungkin menggerutu karena mengira Tuhan memberikan kepada kita salib yang terlalu berat. Tetapi bagi orang yang rela memikul salibnya dan menyatukan penderitaannya dengan penderitaan Kristus, tersedia mahkota di surga. Tuhan memberkati kita. Amin.

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar