Kencan Dengan Tuhan
Selasa, 7 April 2020
Bacaan: 1 Samuel 1:9-10 "Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN,
dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu."
Renungan:
Kita mengenal cerita tentang Hana yang memikul beban berat dan kepedihan hati karena ia tidak memiliki anak. Bahkan tahun demi tahun, setiap kali Hana pergi ke rumah Tuhan, Penina menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena Tuhan telah menutup kandungannya. Di tengah tekanan dan beban yang berat ini, Hana tidak tinggal diam menerima nasib sebagai perempuan mandul, namun ia terus berseru di hadapan Tuhan sampai situasi dan keadaan berubah. Ia tidak tahu pada tahun ke berapa Tuhan akan menjawab doanya, namun ia tetap bertekun ke rumah Tuhan untuk berdoa sampai pada akhirnya ia membawa seorang anak kecil dalam pelukannya, yang kelak menjadi nabi dan pemimpin besar bangsaNya, Nabi Samuel.
Kita melihat bahwa semakin besar dan beratnya tekanan yang menimpanya, semakin keras dan sungguh-sungguh ia mencurahkan isi hatinya di hadapan Tuhan. Semakin kuat tekanan yang menghimpitnya, semakin dalam ia tertancap dalam hadirat Tuhan. Demikianlah seharusnya kita mengerti sebuah kebenaran dasar iman kekristenan, "My prayer is my foundation." Artinya, jika badai hidup datang menerpa, kita tidak hanya sibuk meminta doa sana-sini dari para hamba Tuhan ataupun rekan seiman, namun kita sendiri harus tahu bagaimana membangun sebuah altar bagi Tuhan dari serpihan-serpihan hati yang hancur.
Betapa banyak di antara kita yang lebih mengandalkan kuasa doa dari orang lain daripada dirinya sendiri. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh meminta dukungan doa dari saudara seiman kita. Namun lebih dari itu, kita sendiri harus siap berada di garis depan medan peperangan dan mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa untuk mencari wajah Tuhan.
Kita harus belajar dari Hana yang memfokuskan setiap beban dan sakit hatinya menjadi persoalan antara dia dengan Tuhan. Dia tidak terfokus pada pelakunya, Penina, namun hanya pada Tuhan. Inilah yang menjadi kunci kemenangan kita melewati setiap pergumulan yang ada. Kita tidak peduli kepada mereka yang membuat kita menangis, yang membuat kita sengsara, yang selalu mencibirkan bibirnya menghina kita, namun kita hanya peduli kepada Dia yang mampu mengubah setiap ratapan menjadi tarian. Tuhan memberkati.
Doa:
Tuhan Yesus, ku bawa setiap beban dan pergumulan hidupku padaMu. Ajarilah aku hanya mengandalkan Engkau sehingga hatiku tetap murni karena tidak menyalahkan orang lain dan keadaan di sekitarku. Amin. (Dod).
Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar