Selasa, 10 September 2019

*RABU, 11 SEPTEMBER 2019*

Bacaan Liturgi

Hari Biasa, Pekan Biasa XXIII

Bacaan Injil
Luk 6:20-26

Berbahagialah orang yang miskin,
celakalah orang yang kaya.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas:

Pada waktu itu,
Yesus memandang murid-murid-Nya, lalu berkata,
"Berbahagialah, hai kalian yang miskin,
karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kalian yang kini kelaparan,
karena kalian akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kalian yang kini menangis,
karena kalian akan tertawa.
Berbahagialah, bila demi Anak Manusia kalian dibenci,
dikucilkan, dan dicela serta ditolak.
Bersukacitalah dan bergembiralah pada waktu itu
karena secara itu pula
nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.
Tetapi celakalah kalian, orang kaya,
karena dalam kekayaanmu kalian telah memperoleh hiburan.
Celakalah kalian, yang kini kenyang,
karena kalian akan lapar.
Celakalah kalian, yang kini tertawa,
karena kalian akan berdukacita dan menangis.
Celakalah kalian, jika semua orang memuji kalian;
karena secara itu pula
nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."

Demikianlah Injil Tuhan.
======================
*SIRAMAN ROHANI*                                                                                                                    Rabu, 11 September 2019                                                                                                                   RP Fredy Jehadin, SVD

*Tema: Terbuka Dan Berpegang Pada Tuhan!*                                                                       (Lukas 6: 20 - 26)

Saudara-saudari… Pada suatu sore, saya bersama beberapa teman berjalan menyusuri pantai. Selagi kami berjalan, seorang bapa dan anaknya yang berumur 4 tahun bersepeda. Bapa dengan sepeda yang agak tinggi, sementara anaknya dengan sepeda kecil. Yang menarik bahwa sambil mendayung, anak kecil ini memegang sepeda milik bapanya. Kecepatan melaju sesungguhnya bergantung pada kecepatan dari sepeda Bapanya.  Bukan hanya itu, kunci yang paling penting adalah sang anak harus selalu memegang sepeda Bapanya. Kalau saja ia tidak memegang sepeda bapanya, pasti ia akan ketinggalan jauh di belakang. Sewaktu saya mengamati kedua insan yang menarik ini, yaitu sang Bapa dan anak yang berumur 4 tahun ini, yang mendayung dengan penuh keyakinan dan percaya diri, saya kembali pada proses awal bagaimana keduanya berembuk sebelum mereka memulai mendayung. Saya sungguh yakin bahwa sang Bapa yakinkan anaknya supaya selalu berpegang pada sepeda bapanya sampai bapanya berhenti, atau katakan pada anaknya supaya teriak meminta berhenti kalau merasa capeh. Dengan kata lain, harus terbuka kepada Bapanya. Jadi ada dua persayaratan penting yang harus diperhatikan kalau keduanya bisa sampai dengan selamat di tempat tujuan, yaitu pertama: berpegang erat pada sepeda sang bapa; kedua: Terbuka sampaikan apa yang perlu disampaikan kepada Bapanya. Keterbukaan dan ketergantungan kepada sang Bapa adalah jaminan keselamatan dan keberhasilan sang anak.

Saudara-saudari.... Hari ini Yesus memandang para muridNya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya kerajaan Allah.” Siapa yang dimaksudkan dengan orang miskin di sini? Apakah kerajaan Allah hanya milik orang miskin? Bagaimana dengan orang kaya, apakah mereka tidak punya hak untuk memiliki kerajaan Allah? 
Yang dimaksudkan dengan orang miskin di sini adalah mereka yang selalu terbuka kepada Allah dan selalu merasa bergantung pada Allah. Mereka selalu percaya bahwa tanpa pertolongan Allah mereka akan binasa. Sikap seperti anak kecil dalam ceritera tadi adalah bentuk kemiskinan yang harus selalu kita pupuki. Tuhan pasti akan selalu menolong kita kalau kita selalu terbuka dan merasa bergantung kepadaNya. Orang kaya pasti akan memiliki kerajaan Allah, kalau mereka juga selalu merasa bergantung pada Tuhan dan selalu melihat kesuksesan usaha mereka sebagai berkat dan campur tangan Tuhan. Sebaliknya orang miskin secara jasmani, tidak secara otomatis akan memiliki kerajaan Allah kalau mereka tidak percaya kepada Tuhan.

Sebagai murid Kristus kita selalu diharapkan agar memiliki sikap seperti orang miskin secara rohani atau anak kecil yang selalu terbuka kepada Allah dan merasa bergantung padaNya. Keterbukaan dan kebergantungan kita kepadaNya adalah jaminan kebahagiaan bagi kita.
Yesus juga katakan: “Berbahagialah hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.” Siapa yang dimaksudkan dengan yang lapar di sini? Mereka adalah orang yang selalu lapar akan kebaikan Tuhan, lapar akan Sabda Tuhan, lapar akan pengampunan Tuhan. Karena kerinduannya, maka mereka akan selalu mau mencari dan selalu mau mendengarkan.

Marilah saudara-saudari… Pupukilah sikap terbuka dan merasa bergantung kepada Tuhan walaupun secara jasmani kita memiliki apa yang kita butuhkan setiap hari. Karena Keterbukaan dan kebergantungan kita pada Tuhan sesungguhnya adalah jaminan kebahagiaan dan keselamatan kita di masa mendatang, di saat kita kembali kepadaNya.

Kita memohon Bunda Maria  untuk selalu mendoakan kita. Amen.

Salam Damai Kristus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar